Total Tayangan Halaman

Minggu, 31 Mei 2026

Study Tour Koperasi PRT Talaga Goes to Pengandaran

 

Dokumen pribadi

Talaga – Sebanyak 300 peserta dari Koperasi PRT Talaga mengikuti kegiatan study tour ke Pengandaran pada Sabtu - Minggu 30 -31 Juni 2026. Kegiatan yang mengusung tema "Membangun Kebersamaan dan Solidaritas Bersama" ini berlangsung meriah dan penuh semangat dengan menggunakan enam armada bus. 

Sejak dini hari, para peserta telah memadati lokasi keberangkatan. Wajah-wajah ceria dan antusias tampak menghiasi suasana sebelum rombongan berangkat menuju Pengandaran. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda yang dinantikan oleh para anggota karena selain menjadi sarana rekreasi, juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan kekeluargaan antaranggota koperasi.

Ketua panitia kegiatan menyampaikan bahwa study tour ini dirancang sebagai wadah untuk memperkuat rasa persaudaraan, kebersamaan, dan solidaritas di antara anggota. Di tengah berbagai aktivitas dan kesibukan sehari-hari, kesempatan berkumpul dalam suasana santai seperti ini menjadi sangat berharga untuk membangun komunikasi yang lebih baik dan memperkokoh hubungan antarsesama.

Perjalanan menuju Pengandaran berlangsung penuh keakraban. Sepanjang perjalanan, peserta saling berinteraksi, berbagi cerita, bernyanyi bersama, serta menikmati suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan. Momen-momen tersebut menjadi gambaran nyata semangat kebersamaan yang ingin dibangun melalui kegiatan ini.

Setibanya di Pengandaran, peserta disambut panorama pantai yang indah dan suasana alam yang menenangkan. Berbagai aktivitas dilakukan, mulai dari menikmati keindahan pantai, berfoto bersama, hingga bersantai bersama keluarga besar koperasi. Keceriaan dan kekompakan peserta terlihat jelas selama kegiatan berlangsung.

Tema "Membangun Kebersamaan dan Solidaritas Bersama" tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar tercermin dalam setiap rangkaian kegiatan. Melalui kebersamaan selama perjalanan dan wisata, para peserta diajak untuk semakin memahami pentingnya saling mendukung, bekerja sama, dan menjaga hubungan baik demi kemajuan organisasi dan kesejahteraan bersama.

Kegiatan study tour ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi seluruh anggota, baik dalam meningkatkan semangat kebersamaan maupun memperkuat solidaritas yang selama ini telah terjalin. Dengan hubungan yang semakin erat, diharapkan Koperasi PRT Talaga dapat terus berkembang menjadi organisasi yang kuat, harmonis, dan mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi seluruh anggotanya.

Perjalanan yang penuh kebahagiaan ini akhirnya menjadi bukti bahwa kebersamaan bukan hanya tentang berkumpul dalam satu tempat, melainkan tentang membangun rasa saling memiliki, saling peduli, dan saling menguatkan dalam setiap langkah menuju masa depan yang lebih baik bersama.

Sabtu, 30 Mei 2026

Salman yang bangkit dari kerpurukan

 

Salman yang bangkit dari kerpurukan

Pukul 02.00 dini hari, suasana rumah masih sunyi. Semua orang terlelap dalam tidur. Namun, tidak demikian dengan Salman. Malam itu ia tidak bisa memejamkan mata. Hatinya dipenuhi rasa takut, cemas, dan kebingungan setelah berbagai masalah yang sedang dihadapinya.

Dalam kondisi pikiran yang kalut, Salman mengambil keputusan yang terburu-buru. Karena takut menghadapi kemarahan dan kekecewaan orang tuanya, ia memilih meninggalkan rumah tanpa memberi tahu siapa pun. Dengan langkah pelan agar tidak membangunkan keluarga, Salman keluar dari rumah dan berjalan menembus gelapnya malam.

Saat itu Salman merasa bahwa pergi adalah jalan keluar terbaik. Ia berpikir bahwa dengan menjauh sementara waktu, ia dapat menghindari pertanyaan, nasihat, dan teguran yang membuatnya merasa tertekan. Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam pikirannya.

Di perjalanan, Salman mulai merenungkan berbagai hal. Ia teringat wajah ibunya yang selama ini selalu berjuang memenuhi kebutuhannya. Ia juga teringat ayahnya yang meskipun sering tegas, sebenarnya menginginkan yang terbaik untuk masa depan anaknya. Perlahan-lahan ia menyadari bahwa ketakutannya telah membuatnya mengambil keputusan yang tidak tepat.

Beruntung, di tengah kondisi tersebut, Salman masih memiliki teman-teman yang peduli. Mereka berusaha menghubunginya, menanyakan keadaannya, dan memberikan nasihat agar tidak mengambil langkah yang dapat merugikan dirinya sendiri. Dukungan mereka membuat Salman mulai berpikir lebih jernih.

Dari kejadian itu, Salman belajar bahwa lari dari masalah tidak akan menyelesaikan masalah. Ketakutan kepada orang tua sering kali muncul karena kekhawatiran akan dimarahi atau dihukum. Namun, di balik kemarahan dan ketegasan orang tua, sebenarnya terdapat rasa sayang dan harapan agar anaknya tidak terjerumus lebih jauh ke dalam kesalahan.

Setelah melalui perenungan yang panjang, Salman menyadari bahwa ia harus berani menghadapi kenyataan. Ia harus jujur kepada orang tuanya, mengakui kesalahan yang telah diperbuat, dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil. Ia juga bertekad untuk memperbaiki diri dan tetap melanjutkan kuliahnya agar masa depannya tidak hancur karena satu kesalahan.

Kisah Salman menjadi pelajaran bahwa saat seseorang sedang terpuruk, keputusan yang diambil dalam keadaan emosi sering kali bukan keputusan terbaik. Ketika masalah datang, dukungan keluarga, sahabat, dan keberanian untuk berbicara jujur jauh lebih membantu daripada memilih melarikan diri. Sebab, rumah dan keluarga tetap menjadi tempat pertama untuk kembali, memperbaiki kesalahan, dan memulai langkah baru menuju kehidupan yang lebih baik.

Dialog Salman dengan Ibunya Setelah Pergi dari Rumah

Ibu:
"Salman, kenapa kamu pergi malam-malam tanpa memberi kabar? Ibu sangat khawatir. Semalaman Ibu tidak bisa tidur memikirkan kamu."

Salman:
"Maaf, Bu. Waktu itu Salman bingung dan takut. Salman takut menghadapi Ibu dan Ayah karena kesalahan yang sudah Salman lakukan."

Ibu:
"Takut sampai harus pergi dari rumah jam dua dini hari? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Ibu?"

Salman:
"Salman memikirkannya, Bu. Tapi saat itu pikiran Salman sudah tidak tenang. Salman merasa malu, merasa sudah mengecewakan Ibu dan Ayah. Salman tidak tahu harus bagaimana."

Ibu:
"Kalau ada masalah, seharusnya dibicarakan. Bukan malah pergi. Ibu lebih sedih melihat kamu memilih menjauh daripada jujur kepada kami."

Salman:
"Iya, Bu. Sekarang Salman sadar. Pergi dari rumah bukan solusi. Justru selama di luar Salman terus memikirkan Ibu dan Ayah."

Ibu:
"Salman, sebesar apa pun kesalahanmu, kamu tetap anak Ibu. Kami mungkin marah, tetapi bukan berarti kami tidak sayang."

Salman:
"Salman mengerti sekarang, Bu. Selama ini Salman terlalu takut pada kemarahan Ibu dan Ayah sampai lupa bahwa semua itu karena rasa sayang."

Ibu:
"Lalu bagaimana dengan kuliahmu?"

Salman:
"Salman masih ingin melanjutkan kuliah, Bu. Salman ingin seperti teman-teman Salman yang terus berjuang menyelesaikan pendidikan. Salman tidak mau menyerah."

Ibu:
"Kalau begitu, tunjukkan kesungguhanmu. Jangan hanya dengan kata-kata."

Salman:
"Insya Allah, Bu. Mulai sekarang Salman tidak akan meminta uang untuk hal-hal yang tidak penting. Kecuali untuk kebutuhan kuliah yang benar-benar diperlukan. Salman ingin belajar bertanggung jawab."

Ibu:
"Siapa yang menguatkan kamu selama ini?"

Salman:
"Teman-teman Salman, Bu. Walaupun mereka jauh, mereka terus mengingatkan dan memberi semangat. Mereka tidak membiarkan Salman terpuruk."

Ibu:
"Bagus kalau kamu punya teman yang peduli. Tapi ingat, keputusan hidup tetap ada di tanganmu."

Salman:
"Iya, Bu. Salman juga sudah menyadari bahwa masalah yang terjadi bukan sepenuhnya karena lingkungan atau orang lain. Salman harus mengakui bahwa ada sikap dalam diri Salman yang memang harus diubah."

Ibu:
"Itu yang Ibu harapkan. Berani mengakui kesalahan dan berusaha memperbaikinya."

Salman:
"Maafkan Salman, Bu. Salman sudah membuat Ibu khawatir dan kecewa."

Ibu:
"Ibu memaafkanmu. Tapi jadikan kejadian ini sebagai pelajaran. Jangan pernah lari dari masalah lagi."

Salman:
"Insya Allah, Bu. Salman berjanji akan menghadapi masalah dengan jujur, menyelesaikan kuliah dengan sungguh-sungguh, dan berusaha menjadi anak yang bisa membanggakan Ibu dan Ayah."

Ibu:
"Ibu akan selalu mendoakanmu. Yang penting sekarang, bangkit, perbaiki diri, dan jangan ulangi kesalahan yang sama."

Salman:
"Terima kasih, Bu. Doa dan kepercayaan Ibu akan menjadi kekuatan terbesar bagi Salman untuk berubah."

Selasa, 12 Mei 2026

SDN Cikesal II Ukir Prestasi Membanggakan di Ajang Talenta PMBK Tingkat Kecamatan 2026

 


Suasana haru dan bangga menyelimuti keluarga besar SDN Cikeusal II setelah para siswanya berhasil meraih prestasi gemilang dalam ajang talenta pada kegiatan PMBK Tahun 2026 tingkat kecamatan Talaga. Kegiatan ini menjadi salah satu momen penting bagi para siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka, tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam pembentukan karakter, seni, dan keterampilan.

Ajang yang diikuti oleh berbagai Sekolah Dasar Se-Kecamatan Talaga ini berlangsung dengan penuh semangat dan antusiasme. Setiap peserta datang membawa harapan dan usaha terbaik dari sekolah masing-masing. Di tengah persaingan yang cukup ketat, siswa-siswi SDN Cikeusal II mampu tampil percaya diri dan menunjukkan kualitas yang luar biasa.

Pada Pentas PAI lomba Praktek Shalat Berjamaah (LPSB), para peserta dari SDN Cikeusal II tampil dengan penuh ketenangan dan penghayatan. Setiap gerakan dilakukan dengan tertib dan sesuai tuntunan, sementara bacaan dilantunkan dengan jelas dan fasih. Tidak hanya sekadar memenuhi kriteria penilaian, penampilan mereka juga mencerminkan pembiasaan ibadah yang telah ditanamkan di lingkungan sekolah. Para juri pun memberikan apresiasi atas kekhusyukan dan kesungguhan yang ditampilkan.

Di O2SN Cabang Pencak Silat, suasana berubah menjadi lebih dinamis. Gerakan demi gerakan ditampilkan dengan tegas, lincah, dan penuh energi. Siswa SDN Cikeusal II menunjukkan bahwa mereka tidak hanya menguasai teknik dasar, tetapi juga memiliki mental bertanding yang kuat. Keberanian, ketepatan gerak, dan sportivitas menjadi nilai utama yang mengantarkan mereka meraih hasil yang membanggakan. Sorak dukungan dari para pendukung pun semakin menambah semangat para peserta di arena.

Sementara itu, dalam Pentas PAI lomba kaligrafi Islam (LKI ), ketenangan dan ketelitian menjadi kunci utama. Para siswa menuangkan kreativitas mereka melalui goresan tinta yang indah, membentuk tulisan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan rapi dan artistik. Hasil karya yang dihasilkan tidak hanya menunjukkan kemampuan teknis, tetapi juga rasa cinta terhadap seni Islami. Para juri pun mengakui bahwa karya siswa SDN Cikeusal II memiliki nilai estetika dan keindahan yang tinggi.

Keberhasilan ini tentu tidak diraih secara instan. Di balik pencapaian tersebut, terdapat proses panjang yang melibatkan latihan rutin, bimbingan intensif dari para guru, serta dukungan penuh dari orang tua. Para guru dengan sabar membimbing, melatih, dan memotivasi siswa agar mampu tampil maksimal. Sementara itu, orang tua memberikan dorongan moral yang menjadi penyemangat bagi anak-anak mereka.

Kepala sekolah SDN Cikeusal II ( Dede Awaludin, S.Pd.I ) menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas capaian ini. Ia menuturkan bahwa prestasi tersebut merupakan hasil kerja sama seluruh pihak yang terlibat. “Kami sangat bangga dengan anak-anak kami. Ini bukan hanya tentang juara, tetapi tentang proses, kedisiplinan, dan keberanian mereka untuk tampil. Terima kasih kepada para guru dan orang tua yang telah mendukung sepenuhnya,” ungkapnya dengan penuh haru.

Lebih dari sekadar kemenangan, prestasi ini menjadi bukti bahwa SDN Cikeusal II mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang seimbang antara pengembangan akademik, karakter, dan keterampilan. Sekolah tidak hanya fokus pada nilai, tetapi juga pada pembentukan pribadi siswa yang berakhlak, kreatif, dan percaya diri.

Harapannya, pencapaian ini dapat menjadi motivasi bagi seluruh siswa untuk terus mengembangkan potensi diri. SDN Cikeusal II pun berkomitmen untuk terus memberikan ruang bagi siswa dalam menyalurkan bakat dan minat mereka, sehingga ke depan akan lahir lebih banyak lagi prestasi yang membanggakan.

Dengan semangat kebersamaan dan tekad untuk terus maju, SDN Cikeusal II membuktikan bahwa kerja keras dan do’a tidak pernah mengkhianati hasil. Prestasi hari ini menjadi langkah awal untuk meraih keberhasilan yang lebih besar di masa yang akan datang.

Senin, 11 Mei 2026

Waktu yang Begitu Singkat (Jejak Terakhir yang Tertinggal)

 


Waktu yang Begitu Singkat (Jejak Terakhir yang Tertinggal)

Hari itu sebenarnya tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya.Aktivitas berjalan seperti biasa, tanpa tanda-tanda bahwa kami sedang menuju sebuah perpisahan yang tak terduga.

Hari Jumat itu, saya masih sempat bertemu dengan kakak ipar ku A Opik /Taupikullah.

Sebuah pertemuan yang singkat, sangat sederhana, bahkan mungkin saat itu tidak kami anggap sebagai sesuatu yang istimewa.

Beliau berada di dalam mobil.Saat melintas, di jalan Sindang beliau melambaikan tangan—sebuah gestur ringan yang sering kita lakukan tanpa berpikir panjang. Saya pun membalasnya, mungkin dengan senyum yang biasa saja.

Tidak ada percakapan panjang.

Tidak ada firasat apa pun.

Tidak ada yang terasa berbeda.

Namun kini, momen itu menjadi sangat berarti.

Itulah pertemuan terakhir kami.

Malam pun datang.Waktu berjalan seperti biasa, hingga akhirnya kabar itu datang pada malam Sabtu, sekitar pukul 02.00 dini hari.

Kabar yang mengubah segalanya.

Kakak ipar ku, A Opik/Taupikullah, telah berpulang.

Sejenak, dunia terasa sunyi.

Kabar itu begitu singkat, namun dampaknya begitu dalam. Hati ini seperti tidak siap menerima kenyataan bahwa orang yang baru saja kami lihat, yang baru saja melambaikan tangan beberapa jam sebelumnya… kini telah tiada.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Kalimat itu terucap, tetapi air mata tidak bisa ditahan.Ada rasa tidak percaya, ada keterkejutan, ada duka yang datang bersamaan.

Bagaimana mungkin?

Baru beberapa jam yang lalu kami masih saling melihat.

Dan di situlah kami benar-benar menyadari:

waktu itu bisa berakhir secepat itu.

Saya terus teringat pada lambaian tangan itu.

Sederhana, tetapi kini terasa begitu dalam maknanya. Seolah itu adalah salam perpisahan, meski saat itu kami tidak menyadarinya.

Betapa sering kita menganggap remeh momen-momen kecil.

Padahal bisa jadi, itulah momen terakhir yang akan kita kenang seumur hidup.

Kehilangan ini bukan hanya tentang kepergian seseorang, tetapi juga tentang kesadaran yang datang bersamanya.

Bahwa hidup ini rapuh. Bahwa waktu tidak pernah memberi jaminan.

Kami berkumpul sebagai keluarga dalam suasana duka.

Tidak banyak kata yang bisa diucapkan. Sebagian memilih diam, sebagian menangis, sebagian mencoba tegar. Namun di balik itu semua, ada satu hal yang terasa kuat: ikatan keluarga yang saling menguatkan.

Dalam proses pengurusan jenazah, hati ini semakin tersentuh.

Mulai dimandikan, dikafani, hingga dishalatkan—semuanya menjadi pengingat nyata bahwa setiap manusia pasti akan kembali.

Dan di saat itu, saya kembali teringat:

lambaian tangan di hari Jumat itu.

Begitu singkat.

Namun kini, menjadi kenangan yang tidak akan pernah hilang.

Saya mulai bertanya pada diri sendiri:

Sudahkah saya benar-benar menghargai setiap pertemuan?

Sudahkah saya memanfaatkan waktu bersama keluarga dengan sebaik-baiknya?

Karena ternyata, kita tidak pernah tahu kapan sebuah pertemuan berubah menjadi perpisahan.

Kepergian A Opik/Taupikullah mengajarkan kami tentang banyak hal.

Tentang arti kebersamaan.

Tentang pentingnya kehadiran.

Dan tentang keikhlasan dalam menerima takdir.

Ikhlas bukan berarti tidak merasa kehilangan.

Ikhlas adalah ketika kita tetap berusaha menerima, meski hati terasa berat.

Kami menangis, karena kami mencintainya.

Namun kami juga berdoa, karena itulah yang kini bisa kami berikan.

Ya Allah, ampunilah segala dosanya, terimalah amal ibadahnya, lapangkan kuburnya, dan tempatkan ia di tempat terbaik di sisi-Mu.”

Kini, yang tersisa adalah kenangan.

Dan salah satu kenangan yang paling melekat adalah lambaian tangan itu sebuah momen sederhana yang kini menjadi sangat berarti.

Mungkin, di situlah letak pelajaran terbesar dalam hidup:

bahwa yang sederhana sering kali adalah yang paling bermakna.

Hari-hari ke depan akan terasa berbeda.

Akan ada ruang kosong dalam setiap kebersamaan keluarga. Akan ada momen di mana kami tanpa sadar mengingatnya di jalan, di rumah, atau bahkan saat melihat mobil yang melintas.

Namun kami percaya, kepergiannya bukanlah akhir.

Ini adalah awal dari kehidupan yang sesungguhnya.

Dan bagi kami yang masih di sini, ini adalah pengingat yang kuat:

Bahwa waktu itu singkat.

Bahwa kebersamaan itu berharga.

Dan bahwa setiap pertemuan bisa saja menjadi yang terakhir.

Maka selama masih ada kesempatan,

jangan tunda untuk menyapa,

jangan tunda untuk peduli,

dan jangan tunda untuk mencintai.

Karena suatu hari nanti,

yang tersisa hanyalah kenangan…

dan doa yang terus mengalir tanpa henti.


Selasa, 24 Februari 2026

PUASA DIMULAI DARI PELUKAN AYAH

 


PUASA DIMULAI DARI PELUKAN AYAH

Ayahku adalah sosok yang hebat. Kehebatannya tidak terpahat pada jabatan, tidak pula tercatat dalam piagam penghargaan. Kehebatannya hidup dalam ingatan kami, anak-anaknya, yang tumbuh bersama keteladanan tanpa ceramah panjang, tanpa suara meninggi.

Ketika aku masih sangat kecil, barangkali baru berusia tiga atau empat tahun, aku mulai mengenal puasa. Bukan sebagai kewajiban yang menakutkan, melainkan sebagai kebiasaan yang terasa wajar. Aku tidak pernah dipaksa. Aku hanya melihat. Kakak-kakakku yang lebih besar sudah kuat berpuasa. Mereka bangun sahur dengan mata yang masih berat, menahan lapar dengan wajah ceria, dan menjalani hari seolah puasa adalah bagian alami dari hidup. Dari situlah aku belajar: anak-anak meniru lebih cepat daripada mendengar nasihat. Kebiasaan baik menular lewat contoh, bukan perintah.

Ayah sering bercerita dengan suara tenang, nyaris seperti berbisik pada waktu. Puasa, katanya, menyehatkan badan. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi melatih hati agar sabar, melatih pikiran agar jernih, dan melatih jiwa agar tidak selalu menuruti keinginan. Ia tidak pernah memaksa kami untuk memahami semua itu. Ia hanya menjalaninya dengan konsisten, dan kami mengikuti tanpa sadar.

Masa kecilku adalah masa ketika subuh terasa sangat pagi, namun juga sangat bermakna. Aku masih ingat benar bagaimana Ayah membangunkan kami satu per satu. Tidak sekaligus, tidak tergesa-gesa. Satu anak, satu sentuhan. Kadang digendong, kadang dituntun. Kami dibawa ke kamar mandi yang besar dan luas. Air dari bak mandi menyentuh wajah kami, dilap perlahan oleh tangan Ayah. Aneh rasanya mengingat itu sekarang—pagi buta yang seharusnya dingin justru terasa hangat. Karena tangan seorang ayah selalu membawa rasa aman.

Ayah percaya, anak-anak yang dibiasakan mandi pagi akan tumbuh lebih segar. Ia sering berkata, mandi pagi menyehatkan badan dan mencerdaskan otak. Dulu kami hanya mengangguk, setengah mengerti. Kini, setelah usia bertambah, kata-kata itu seperti menemukan pembenarannya sendiri. Disiplin kecil yang dilakukan berulang-ulang ternyata membentuk kebiasaan besar dalam hidup.

Sementara Ayah mengurus kami, Ibu telah lebih dulu sibuk di dapur dalam. Dapur itu luas, tertata, dan terasa hidup. Di sanalah denyut pagi dimulai. Tiga tungku besar berdiri kokoh, masing-masing memiliki peran. Tungku paling depan menerima kayu bakar yang dimasukkan lurus ke dalamnya. Api kemudian menjalar ke tungku kedua melalui lubang penghubung. Dari lubang samping kiri, bara api menyala sempurna. Semua itu dirancang sendiri oleh Ayah—bukan hanya sebagai tempat memasak, tetapi sebagai simbol keteraturan, efisiensi, dan kesabaran.

Ibu memasak dengan ritme yang tenang. Tidak terburu-buru, tidak berisik. Bunyi kayu terbakar, denting alat masak, dan aroma masakan sahur menyatu dengan suasana pagi. Setelah kami selesai dimandikan, di atas meja sudah tersedia kopi dingin tanpa gula. Kopi buatan Ibu, yang kemungkinan besar telah disiapkan sejak sore hari sebelumnya. Sederhana, apa adanya, namun selalu terasa cukup.

Sambil menunggu masakan matang, Ayah mulai mendongeng. Ia tidak menyebutnya nasihat, tapi begitulah caranya menanamkan nilai. Ceritanya bisa tentang masa kecilnya, tentang orang-orang yang ia temui, tentang kerja keras, tentang hidup yang harus dijalani dengan jujur. Namun ujungnya selalu sama: anak-anak yang baik harus bangun pagi, membersihkan diri, lalu ikut salat Subuh berjamaah. Kami berdiri rapi di belakang Ayah dan Ibu, menirukan setiap gerakan, meresapi setiap keheningan.

Puasa, bagi kami, bukan hanya soal menahan lapar. Ia adalah rangkaian kebiasaan: bangun pagi, mandi, sahur sederhana, salat berjamaah, lalu menjalani hari dengan hati yang lebih tertata. Semua itu terasa ringan karena dilakukan bersama, karena dicontohkan, bukan diperintahkan.

Waktu berjalan, perlahan namun pasti. Kami tumbuh dewasa, satu per satu meninggalkan rumah. Rumah itu mungkin kini tak lagi sama. Dapur itu mungkin tak lagi digunakan seperti dulu. Tungku-tungku besar itu mungkin telah lama padam. Namun yang Ayah tanamkan tidak ikut padam. Nilai-nilai itu hidup dalam diri kami.

Kini, ketika kami membangunkan anak-anak kami untuk sahur, ketika kami mengusap wajah mereka dengan air pagi, ketika kami mencontohkan puasa tanpa keluhan, sesungguhnya kami sedang menghidupkan kembali Ayah. Ia hadir dalam setiap kebiasaan baik yang kami teruskan.

Puasa akhirnya bukan hanya ibadah tahunan. Ia adalah warisan. Warisan tentang kesederhanaan, keteladanan, dan cinta yang bekerja dalam diam—menghangatkan generasi demi generasi.

Kamis, 29 Januari 2026

Rapat Kerja Kwartir Ranting Gerakan Pramuka Talaga Tahun 2026

 



Rapat Kerja Kwartir Ranting Gerakan Pramuka Talaga Tahun 2026

Talaga, 29 Januari 2026 — Kwartir Ranting (Kwarran) Gerakan Pramuka Kecamatan Talaga melaksanakan Rapat Kerja Tahun 2026 pada Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk mengevaluasi pelaksanaan program kerja tahun sebelumnya sekaligus merumuskan arah kebijakan dan rencana kegiatan kepramukaan di Kecamatan Talaga pada tahun 2026.

Rapat kerja diikuti oleh jajaran pengurus Kwarran Gerakan Pramuka Talaga, Majelis Pembimbing Gugus, serta perwakilan gugus depan se-Kecamatan Talaga. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dalam suasana tertib, partisipatif, dan penuh semangat kebersamaan, mencerminkan komitmen bersama dalam memajukan kegiatan kepramukaan.

Gerakan Pramuka Talaga (Kak Ikah Atikah, S.Pd.I) sebagai ketua kwarran Talaga menyampaikan sejumlah program prioritas yang akan dilaksanakan pada tahun 2026. Salah satu fokus utama adalah rencana penyelenggaraan Kursus Mahir Dasar (KMD) sebagai upaya peningkatan kompetensi pembina Pramuka. Selain itu, beliau juga menyampaikan harapan agar ke depan Kwarran Talaga dapat melaksanakan Kursus Mahir Lanjutan (KML) sebagai jenjang lanjutan dalam meningkatkan kualitas dan profesionalitas para pembina

Kegiatan ini juga mendapatkan dukungan dari Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Majalengka. Hadir Kwarcab Majalengka, yang diwakili Wakil Ketua Bidang Pembinaan Anggota Muda (Wakabina Muda kak Agus Koswara, M.Pd) yang memberikan arahan dan motivasi kepada seluruh peserta rapat. Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya sinergi dan koordinasi antara Kwarcab dan Kwarran agar program-program kepramukaan dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi peserta didik.

Sementara itu, Wakabina Muda Kwarcab Majalengka turut memaparkan agenda besar kegiatan kepramukaan tahun 2026 yang akan menjadi fokus pembinaan peserta didik. Dua kegiatan utama yang disampaikan adalah partisipasi dalam Jambore Nasional yang direncanakan berlangsung pada bulan Agustus 2026, serta pelaksanaan Lomba Tingkat (LT) sebagai wahana pembinaan, pengembangan keterampilan, dan penguatan karakter peserta didik melalui kegiatan kepramukaan.

Rapat kerja ini juga dihadiri oleh Majelis Pembimbing Ranting (Mabiran) Kecamatan Talaga, yang secara langsung dihadiri oleh Camat Talaga (Agus Heriyanto, S.Kep., Ners., M.A.P). Dalam sambutannya, Camat Talaga menyampaikan apresiasi atas peran aktif Gerakan Pramuka di Kecamatan Talaga dalam pembinaan generasi muda. Ia menegaskan bahwa kegiatan kepramukaan merupakan sarana strategis dalam menanamkan nilai-nilai disiplin, kemandirian, tanggung jawab, kerja sama, serta kecintaan terhadap bangsa dan negara.

“Kegiatan Pramuka di Kecamatan Talaga memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam menciptakan peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara moral dan kepribadian,” ungkap Camat Talaga.

Dengan terselenggaranya Rapat Kerja Kwartir Ranting Gerakan Pramuka Kecamatan Talaga Tahun 2026 ini, diharapkan seluruh program yang telah direncanakan dapat dilaksanakan secara optimal, terkoordinasi, dan berkelanjutan, serta memberikan kontribusi nyata dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, mandiri, dan berjiwa kebangsaan.

Sikap ayah tak biasa seperti hari sebelumnya (ayah selalu cemas )

 


Ayah Harus Tegas

Ayah tahu, tidak semua sikap ayah terasa nyaman bagi anak-anak ku.

Nada suara ayah yang kadang meninggi, aturan yang terasa keras, serta larangan yang sering membuatmu bertanya: mengapa ayah tidak bisa lebih lembut?

Ayah mengerti jika hatimu pernah terluka karenanya.

Ayah pun tidak menutup mata bahwa di balik ketegasan itu, ada air mata yang mungkin kau simpan sendiri. Namun, sedikit yang benar-benar tahu, bahwa setiap ketegasan ayah lahir dari rasa takut yang tak pernah ayah ucapkan.

Ayah cemas pada dunia yang kelak akan kau hadapi.

Dunia yang tidak selalu ramah, tidak selalu memberi kesempatan kedua, dan sering kali menghukum tanpa peduli perasaan. Ayah takut suatu hari kau berdiri sendirian, menghadapi kerasnya hidup, sementara ayah hanya tinggal sebagai kenangan.

Maka ayah memilih jalan yang tidak mudah.

Menjadi orang yang mungkin tidak selalu kau sukai,demi menjadi orang yang kelak kau pahami.

Ayah sadar, kasih sayang tidak selalu hadir dalam bentuk pelukan dan kata manis.

Kadang ia hadir dalam batasan, dalam aturan, dalam kata “tidak” yang menyakitkan, namun menyelamatkan. Ketegasan ayah bukan karena kurang cinta, melainkan karena cinta yang terlalu besar untuk membiarkanmu rapuh.

Jika hari ini kau kecewa pada ayah,

ayah menerimanya dengan lapang.

Sebab ayah berharap, suatu hari nanti,

ketika hidup menuntutmu untuk kuat,

kau akan berdiri tegak—bukan karena ayah masih ada,melainkan karena ayah pernah mengajarkanmu bertahan.

Ayah tidak sempurna.Namun dalam setiap ketegasan, ayah selalu berdoa:

semoga kau tumbuh menjadi pribadi yang kuat, berani, dan tetap berhati lembut.