Judul : Mengelola Majalah Sekolah
Penyusun :
Dede Awaludin, S.Pd.I.
Resume
ke : 11
Gelombang :
33
Hari/Tanggal : Jumat, 29 Agustus 2025
Tema :
Narasumber : Widya Setianingsih, S.Ag
Moderator : Nur Dwi Yanti, M.Pd
Majalah Sekolah, Pohon Literasi yang Menumbuhkan
Kreativitas
Majalah sekolah sering dianggap hanya sebagai
karya sederhana. Isinya biasanya tak jauh dari kumpulan tulisan siswa, beberapa
foto kegiatan, dan laporan acara. Namun, jika kita mau melihat lebih dalam,
majalah sekolah sejatinya adalah sebuah pohon literasi yang tumbuh di
tengah-tengah lingkungan pendidikan. Pohon itu akarnya menumbuhkan minat baca,
batangnya menguatkan rasa percaya diri, dan daunnya memberi keteduhan berupa
pengetahuan serta inspirasi.
Majalah sekolah
bukan hanya soal kertas yang dijilid, melainkan simbol kehidupan literasi yang
nyata. Ia lahir dari semangat siswa dan guru untuk berkarya, dari keinginan
mendokumentasikan momen, hingga dari kebutuhan mengekspresikan diri. Karena
itu, majalah sekolah ibarat pohon yang ditanam bersama, dirawat bersama, lalu
berbuah untuk dinikmati bersama pula.
Di era media sosial, banyak orang bertanya-tanya:
“Untuk apa membuat majalah sekolah? Bukankah
semua kegiatan bisa langsung diunggah di Instagram, Facebook, atau WhatsApp?”
Pertanyaan ini tentu wajar, mengingat hampir semua orang kini menggenggam
ponsel pintar yang bisa mengabadikan momen dengan cepat.
Namun, di situlah
letak keistimewaannya. Media sosial memang serba instan, tetapi sifatnya
sementara. Satu unggahan bisa tenggelam dalam hitungan jam, tertutup oleh
postingan baru. Sedangkan majalah sekolah bersifat abadi. Ia bisa disentuh,
dibaca ulang berkali-kali, bahkan disimpan sebagai kenangan.
Bayangkan, sepuluh
tahun mendatang seorang alumni membuka kembali majalah sekolahnya. Ia tersenyum
saat melihat fotonya ikut lomba 17 Agustus, tertawa membaca puisinya yang dulu
polos, atau terharu saat membaca wawancara dengan gurunya yang kini sudah purna
tugas. Itulah yang membuat majalah sekolah tidak tergantikan. Ia bukan hanya
dokumentasi, melainkan juga arsip emosi dan kenangan.
Salah satu kekuatan terbesar majalah sekolah
adalah fungsinya sebagai ruang ekspresi siswa. Tidak semua anak memiliki
keberanian tampil di depan umum, tetapi mereka bisa bersuara lewat tulisan. Di
majalah, setiap kata yang mereka tulis menjadi saksi bahwa pendapat mereka
diakui.
Tulisan-tulisan
siswa inilah yang membuat majalah sekolah hidup. Ada yang menuangkan perasaan
lewat puisi, ada yang berimajinasi lewat cerpen, ada pula yang kritis lewat
opini. Semua itu menunjukkan betapa kaya kreativitas mereka.
1) Cerpen Siswa
Seorang siswa pernah menulis cerita berjudul “Sepeda
Tua Ayah.” Cerita sederhana itu menggambarkan perjuangan seorang ayah yang
mengayuh sepeda tuanya setiap hari demi mencari nafkah. Meski sederhana, kisah
itu mampu menguras air mata pembaca karena mereka merasa dekat dengan
pengalaman serupa.
2) Puisi
Seorang siswi kelas XI menulis puisi berjudul “Langit di Atas Lapangan Sekolah.” Puisinya menggambarkan
kehangatan kebersamaan: tertawa bersama teman, berlari di bawah terik matahari,
dan berbagi mimpi. Puisi ini sederhana, namun mampu menyentuh siapa saja yang
membacanya.
3)
Artikel
Opini
Ada pula siswa yang menulis opini tentang “Bijak
Menggunakan Media Sosial.” Ia mengingatkan teman-temannya untuk tidak asal
membagikan informasi tanpa memverifikasi kebenarannya. Tulisan ini tidak hanya
enak dibaca, tetapi juga menumbuhkan sikap kritis dan tanggung jawab di era
digital.
4)
Berita
Kegiatan
Redaksi majalah biasanya meliput berbagai kegiatan sekolah. Misalnya perayaan
Hari Kemerdekaan dengan lomba tarik tambang, karnaval, hingga bazar makanan.
Dokumentasi dalam bentuk tulisan dan foto memastikan kenangan itu tidak hilang
begitu saja, tetapi tetap bisa dikenang oleh generasi berikutnya.
5) Wawancara
Majalah sekolah sering menampilkan wawancara dengan sosok inspiratif. Bisa guru
yang sudah lama mengabdi, atau alumni yang kini sukses di dunia kerja. Misalnya
wawancara dengan alumni yang menjadi dokter muda, yang bercerita bagaimana
semangat belajar di sekolah dulu membentuk perjalanan hidupnya.
Semua rubrik ini menjadikan majalah sekolah lebih
dari sekadar media informasi. Ia adalah panggung kreativitas yang menumbuhkan
kepercayaan diri setiap siswa.
Majalah sekolah sesungguhnya adalah jendela literasi. Lewat majalah, siswa
belajar menulis, membaca, sekaligus berpikir kritis. Menulis mengajarkan
kedisiplinan, karena mereka harus menuntaskan naskah sesuai tenggat. Membaca
menumbuhkan rasa ingin tahu, karena mereka harus melihat beragam sudut pandang.
Berpikir kritis mengasah keberanian mereka untuk mengemukakan pendapat.
Majalah juga bisa
menjadi inspirasi. Ketika seorang siswa membaca kisah perjuangan temannya yang
rajin belajar meski hidup dengan keterbatasan, ia akan merasa termotivasi.
Ketika seorang guru membaca opini siswa tentang metode belajar menyenangkan, ia
bisa mendapatkan ide baru untuk diterapkan di kelas. Dengan kata lain, majalah
sekolah menumbuhkan iklim saling belajar antara siswa dan guru.
Tidak bisa dipungkiri, majalah sekolah adalah
wajah sekolah di mata masyarakat. Orang tua, tamu, bahkan sekolah lain bisa
melihat bagaimana suasana belajar di sekolah ini hanya dengan membuka lembaran
majalah. Dari artikel, foto, hingga karya siswa, semuanya memberi gambaran
tentang budaya literasi yang hidup.
Selain itu, majalah
sekolah juga menjadi media promosi yang elegan. Ia menunjukkan bahwa siswa
penuh kreativitas, guru inspiratif, dan lingkungannya penuh kebersamaan. Sebuah
majalah yang dikelola dengan baik akan menambah citra positif sekolah di mata
masyarakat luas.
Tentu, membuat majalah sekolah tidak semudah
membalikkan telapak tangan. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi.
Dibutuhkan kerja sama banyak pihak:
1) Guru
pembimbing yang sabar membimbing penulis pemula.
2) Siswa
yang tekun dan bersemangat menulis.
3)
Tim desain yang telaten menyusun tata letak agar enak
dipandang.
4)
Tim distribusi yang memastikan majalah sampai ke
pembaca.
Semua proses itu kadang melelahkan. Ada kalanya
naskah terlambat masuk, desain harus direvisi berulang kali, atau dana
penerbitan belum mencukupi. Namun, semua jerih payah itu akan terbayar ketika
majalah akhirnya terbit. Ada kebanggaan yang sulit diungkapkan ketika melihat
hasil karya bersama hadir di tangan pembaca.
Majalah sekolah ibarat benih literasi yang kita
tanam. Hasilnya mungkin tidak langsung tampak. Namun, seiring waktu, siswa yang
terbiasa menulis akan tumbuh menjadi generasi yang percaya diri dan berani
menyampaikan gagasan. Siswa yang rajin membaca majalah sekolah akan tumbuh
dengan wawasan luas. Dan sekolah yang konsisten menerbitkan majalah akan
dikenal sebagai sekolah yang peduli pada literasi.
Lebih jauh lagi,
majalah sekolah bisa menjadi awal lahirnya penulis hebat. Tidak sedikit penulis
besar yang karya pertamanya terbit di majalah sekolah. Dari sanalah mereka
belajar mengolah kata, melatih imajinasi, hingga menemukan gaya menulis
pribadi.
Majalah sekolah bukan sekadar lembaran kertas
berisi tulisan. Ia adalah pohon literasi yang tumbuh di lingkungan pendidikan.
Pohon itu memberi keteduhan, menumbuhkan kreativitas, sekaligus meninggalkan
jejak kenangan.
Jika sekolah ingin
menumbuhkan budaya literasi, majalah sekolah adalah salah satu langkah paling
nyata. Ia bukan hanya media dokumentasi, tetapi juga ruang ekspresi, sumber
inspirasi, dan wajah sekolah di mata masyarakat.
Pada akhirnya,
majalah sekolah adalah karya bersama yang akan terus hidup. Selama ada guru
yang mau membimbing, siswa yang mau menulis, dan sekolah yang mau merawat,
pohon literasi ini akan tumbuh subur, memberi buah kreativitas, dan
menginspirasi generasi demi generasi.

mantul pa
BalasHapusLuar biasa resumenya dan bagud tulisannya
BalasHapus