Total Tayangan Halaman

Senin, 11 Agustus 2025

Teknik Penulisan Resume

 


Judul                         :  Teknik Penulisan Resume

Penyusun                  :  Dede Awaludin, S.Pd.I.

Resume ke                :  3

Gelombang               :  33

Hari/Tanggal            :  Senin, 11 Agustus 2025

Tema                        :  Teknik Penulisan Resume

Narasumber              :  Raliyanti, S.Sos., S.Kom., M.Pd

Moderator                :  Ahmad Soleh, S.Pd., Gr.

 

Aku adalah salah satu peserta kelas KBMN yang dikenal rajin. Hampir di setiap pertemuan ia hadir, duduk manis, dan fokus mendengarkan narasumber. Catatan di bukunya rapi, bahkan kadang diberi warna-warni spidol agar lebih mudah diingat.

Namun, ada satu tugas yang membuatnya gelisah setiap kali diumumkan: menulis resume.

“Kalau cuma bikin ringkasan sih aku bisa,” batinnya. Tapi kenyataannya tidak semudah itu. Begitu membuka laptop dan mulai mengetik, Aku tanpa sadar menyalin hampir semua isi materi. Resume yang saya buat jadi panjang, penuh detail, membosankan, dan terasa seperti hasil copy-paste.

Setiap kali mengumpulkan tugas, saya selalu merasa kurang puas. Resume yang harusnya ringkas dan menyenangkan dibaca, malah seperti naskah ulang.

Suatu sore, di kelas daring KBMN, Ibu Raliyanti membuka sesi dengan pertanyaan yang sederhana tapi langsung mengena,
Siapa di sini yang kalau bikin resume malah jadi nulis ulang semua materi?”

Hampir setengah peserta tersenyum malu sambil mengangkat tangan. aku salah satunya.

Ibu Raliyanti pun tersenyum, lalu menjelaskan dengan lembut,
“Resume itu bukan mengetik ulang isi materi. Resume adalah menangkap inti sari poin terpenting dari yang kita baca atau dengar lalu menyusunnya dengan bahasa kita sendiri.”

Beliau kemudian menambahkan perumpamaan yang membuat suasana kelas jadi hangat,
“Resume yang baik itu seperti kopi yang enak: pekat, nikmat, tapi tidak bikin pusing.”

Semua peserta tertawa kecil, tapi di hati masing-masing, muncul rasa “Oh, begitu ya…”.

Sejak hari itu, aku mulai mengubah cara pandangnya. Resume bukan sekadar menyalin, melainkan menyaring.

Sering kali orang menyamakan resume dengan ringkasan, padahal keduanya berbeda.

1)    Ringkasan biasanya berisi potongan isi asli yang disingkat. Panjangnya bisa tetap melebar dan sering kali tidak fokus.

2)    Resume lebih padat, terstruktur, dan ditulis ulang dengan bahasa sendiri. Fokusnya pada inti dan tujuan.

Bayangkan ringkasan itu seperti menyimpan seluruh isi tas tapi dengan ukuran lebih kecil. Sedangkan resume itu memilih barang paling penting untuk dibawa, sisanya ditinggalkan.

Mengapa kita perlu repot-repot menulis resume? Ternyata ada banyak manfaatnya, antara lain:

1.     Membantu memahami materi dengan cepat. Saat menulis resume, kita otomatis menyaring informasi. Proses ini membuat otak lebih mudah mengingat.

2.     Memudahkan menjelaskan ulang pada orang lain. Dengan resume, kita bisa menyampaikan inti materi dalam waktu singkat.

3.     Menjadi bukti pemahaman. Resume bukan sekadar catatan, melainkan bukti bahwa kita benar-benar mengerti, bukan hanya hadir pasif.

4.     Bekal dunia kerja dan kehidupan. Resume melatih kita untuk berpikir kritis, memilih yang penting, dan menyampaikan secara efektif.

Bahkan di kelas KBMN, resume menjadi salah satu syarat kelulusan. Jadi, jelas sekali: resume bukan formalitas, tapi kebutuhan nyata.

Ibu Raliyanti merangkum teknik menulis resume dalam tiga kunci sederhana:

1.     Ringkas → hanya ambil poin penting, jangan semua.

2.     Bahasa sendiri → hindari menyalin mentah-mentah.

3.     Tepat sasaran → fokus pada tujuan dan inti materi.

Kedengarannya mudah, tapi justru sering diabaikan.

Agar lebih jelas, mari kita lihat langkah praktis yang bisa diikuti siapa pun:

1.     Baca atau dengarkan dengan fokus.
Jangan sekadar hadir, tapi benar-benar perhatikan. Catat kata kunci saat narasumber menjelaskan.

2.     Tandai poin penting.

o   Ide utama.

o   Fakta atau data penting.

o   Contoh yang relevan.

3.     Gunakan bahasa sendiri.
Parafrase, ubah susunan kalimat, atau gunakan sinonim. Jangan takut terlihat “sederhana,” karena justru kesederhanaan membuat resume lebih jelas.

4.     Susun secara terstruktur.
Bisa dalam bentuk paragraf singkat atau poin-poin. Misalnya: Pendahuluan → Isi → Penutup.

5.     Periksa dan sederhanakan.
Buang kalimat bertele-tele. Pastikan pembaca bisa langsung memahami maksudnya.

Agar lebih mudah, mari kita lihat contoh:

Resume yang salah:

·       Panjang sekali, hampir sama dengan materi asli.

·       Copy-paste dari teks.

·       Tidak jelas mana inti dan mana tambahan.

Resume yang benar:

·       Singkat, hanya memuat poin utama.

·       Ditulis dengan bahasa sendiri.

·       Mengalir, enak dibaca, tapi tetap akurat.

Di kelas KBMN, peserta sering diberi latihan singkat: satu paragraf materi diminta diringkas menjadi 3–4 kalimat resume.

Awalnya memang sulit. Banyak yang bingung harus membuang bagian mana. Tapi setelah mencoba, peserta jadi terbiasa berpikir kritis: “Mana yang inti, mana yang bisa ditinggalkan?”

Saya sendiri awalnya gugup. Namun setelah beberapa kali latihan, aku mulai terbiasa. Resume yang dulu penuh salinan berubah menjadi tulisan singkat tapi padat makna.

Selain ringkas dan jelas, resume juga harus bebas plagiasi. Caranya:

a)     Tulis ulang dengan gaya bahasa sendiri.

b)    Jika perlu mengutip, gunakan tanda kutip dan sebutkan sumber.

c)     Latihan parafrase: ubah susunan kalimat tanpa mengubah makna.

Dengan begitu, resume bukan hanya rapi, tapi juga orisinal.

Kini, bagi saya, menulis resume tidak lagi menakutkan. Justru aku menikmatinya. Setiap resume yang aku tulis membuatnya merasa semakin paham dan bisa menjelaskan materi dengan mudah kepada teman.

Aku akhirnya menemukan filosofi sederhana:
Menulis resume itu seperti menyaring teh. Ampasnya dibuang, sarinya yang kita nikmati.

Resume bukan sekadar tugas kelas, tapi seni menangkap esensi kehidupan: memilih yang penting, membuang yang berlebihan, dan menyampaikannya dengan jernih.

Maka, jangan takut menulis resume. Ingat tiga kunci tadi: Ringkas – Bahasa Sendiri – Tepat Sasaran.
Karena resume yang baik bukan hanya mencatat, tapi juga membentuk cara kita berpikir.

Atau, seperti kata Ibu Raliyanti,
“Jangan hanya hadir di kelas, hadir juga dalam catatan dan pemahaman kita.”

4 komentar: