Judul : Berkarya
dan Berprestasi Lewat Menulis
Penyusun :
Dede Awaludin, S.Pd.I.
Resume
ke : 13
Gelombang :
33
Hari/Tanggal : Rabu,
03 September 2025
Tema : Berkarya dan Berprestasi
Lewat Menulis
Narasumber :
Rita Wati, M.Kom
Moderator : Dyah Kusumaningrum, S.T.
Berkarya dan Berprestasi Lewat Menulis
Di ruang belajar KBMN PGRI Gelombang 33, suasana
begitu hangat. Walaupun pertemuan dilakukan secara daring melalui WhatsApp,
rasa kebersamaan itu terasa nyata. Guru-guru dari berbagai daerah hadir dengan
semangat yang sama: ingin belajar, ingin bertumbuh, dan ingin melangkah lebih
jauh lewat menulis.
Kelas ini berbeda. Ia
bukan sekadar ruang untuk menyusun kata-kata, melainkan juga wadah untuk
merajut mimpi. Ada rasa antusiasme yang mengalir dalam setiap percakapan. Tawa
kecil, rasa penasaran, hingga pengakuan jujur tentang keraguan diri bercampur
jadi satu, menciptakan atmosfer yang mendukung siapa pun untuk berani memulai.
Pada pertemuan awal,
Bu Rita Wati, M.Kom, sebagai narasumber, melontarkan dua pertanyaan sederhana:
1.
Apa tujuan Bapak/Ibu mengikuti kelas Belajar Menulis?
2.
Apakah Bapak/Ibu setuju jika menulis dapat melejitkan
prestasi? Sebutkan alasannya.
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi justru
menjadi kunci yang membuka percakapan panjang. Banyak peserta mulai merenung,
bahkan menyadari kembali alasan terdalam mengapa mereka ada di kelas ini.
Tidak sedikit peserta yang mengaku awalnya merasa
ragu. “Tulisan saya jelek.” “Saya tidak tahu harus mulai dari mana.” “Takut
nanti dikritik.” Kalimat-kalimat seperti itu sering muncul di ruang kelas.
Namun, perlahan, mereka belajar bahwa menulis bukan soal hasil yang langsung sempurna,
melainkan tentang keberanian untuk mencoba.
Menulis adalah
keberanian membuka diri. Di setiap kata yang tertulis, ada jujur yang
ditawarkan, ada pengalaman yang dibagikan, ada gagasan yang diperjuangkan.
Keberanian itulah yang menjadikan tulisan bernilai, bukan sekadar indahnya
rangkaian kata.
Peserta mulai
menyadari, menulis bukan sekadar hobi, tetapi juga proses mengenali diri. Dari
kata yang sederhana, lahir refleksi mendalam. Dari catatan harian, muncul ide
untuk sebuah buku. Dari pengalaman pribadi, tumbuh inspirasi bagi orang lain.
Saat pertanyaan kedua dilontarkan, hampir semua
peserta sependapat: menulis memang bisa menjadi jalan untuk meraih prestasi. Mengapa?
Karena tulisan adalah jejak intelektual yang tak mudah hilang.
Tulisan merekam
proses berpikir seseorang. Ia menunjukkan kemampuan menyusun logika, menata
emosi, dan memilih kata. Seorang guru yang rajin menulis dapat membagikan
praktik baiknya kepada rekan sejawat, bahkan berkesempatan diundang menjadi
narasumber. Seorang siswa yang suka menulis cerpen bisa menorehkan prestasi di
tingkat lokal, nasional, bahkan internasional.
Menulis bukan hanya
memperlihatkan kemampuan, tetapi juga membuka pintu kesempatan. Tulisan bisa
menjadi portofolio berharga, modal untuk mengikuti lomba, atau jalan menuju
publikasi yang lebih luas. Dari tulisan, seseorang dikenal bukan hanya di
lingkungannya, tetapi juga di luar sana.
Salah satu kisah nyata yang menjadi inspirasi
adalah perjalanan Bu Rita Wati, M.Kom.
“Pada tahun 2020,
saya mengikuti KBMN Gelombang 10. Awalnya, tujuan saya sederhana: hanya ingin
bisa menulis lebih baik dan menerbitkan buku. Tidak pernah terbayang sebelumnya
bahwa langkah kecil itu bisa membawa saya pada pencapaian yang lebih besar.
Karya- Karya Rita Wati, M.Kom
Dulu, untuk ikut
lomba tingkat kecamatan saja saya minder. Tapi setelah bergabung dengan KBMN,
semua berubah. Perlahan saya mulai menulis, menerbitkan karya, bahkan
berkolaborasi menulis buku bersama Prof. Richardus Eko Indrajit.
Alhamdulillah, dari sana lahirlah banyak
pengalaman berharga. Saya meraih Juara Blog dan Guru Inspiratif
Kemendikbudristek 2021. Saya juga terpilih menjadi salah satu dari 160 guru
volunteer ICT dari Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand dalam AILCoB ICT
Virtual Training. Bahkan, saya sempat mengikuti Digital Skill Computer Science
CS50X di Harvard University. Semua itu bermula dari keberanian menulis.”
https://www.youtube.com/watch?v=gPL8PasXB_I
Cerita Bu Rita menunjukkan bahwa menulis
adalah pintu yang membuka peluang. Dari langkah kecil yang sederhana, lahir
kesempatan besar yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Dari kisah itu kita belajar, menulis bukan hanya
soal menuangkan kata. Ia adalah jalan berkarya. Tulisan bisa hadir dalam
berbagai bentuk: artikel, esai, cerpen, puisi, hingga buku. Setiap karya punya
nilai, meski sederhana.
Yang lebih penting,
menulis mengasah keterampilan hidup. Ia melatih seseorang berpikir kritis,
berkomunikasi dengan lebih jelas, dan mengolah emosi dengan lebih baik. Guru
yang menulis akan lebih percaya diri ketika berbicara di depan kelas, karena ia
terbiasa menyusun gagasan. Siswa yang menulis akan lebih terampil dalam
berargumentasi, karena ia terbiasa merangkai logika.
Bagi pendidik,
menulis juga mengembalikan jati diri. Menulis mengingatkan bahwa guru bukan
hanya pengajar, tetapi juga pemikir, pencatat sejarah, dan penyampai inspirasi.
Menulis bukan sekadar aktivitas teknis, tetapi
juga sarana memberi makna. Setiap tulisan punya daya untuk menyentuh hati,
membangkitkan semangat, bahkan mengubah hidup seseorang.
Dari tulisan
sederhana, seseorang bisa dikenang. Dari tulisan reflektif, inspirasi bisa
tersebar. Dari tulisan kritis, perubahan bisa dimulai.
Menulis memang
tidak mudah. Dibutuhkan latihan, kesabaran, dan konsistensi. Namun setiap kata
yang kita tulis adalah investasi jangka panjang. Tulisan bisa bertahan lebih
lama dari suara, lebih abadi dari ingatan.
Pertanyaan narasumber di awal kelas kembali terngiang: Untuk apa kita menulis?
Jawabannya boleh berbeda-beda, tetapi ada satu hal yang menyatukan: menulis
adalah jalan untuk berkarya, dan dari karya itulah lahir prestasi.
Maka, jangan tunggu
sempurna. Mulailah dari sekarang. Ambil pena, buka laptop, tuliskan satu
paragraf, satu cerita, atau satu refleksi. Siapa tahu, dari tulisan sederhana
itu, pintu besar prestasi sedang terbuka.
Seperti yang
dialami Bu Rita Wati, menulis bukan hanya tentang menghasilkan karya, melainkan
juga tentang menemukan diri, membangun jejaring, dan meraih kesempatan yang tak
terduga.
Mari kita menulis
bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk memberi makna bagi orang
lain. Karena pada akhirnya, menulis adalah cara kita berkarya, berprestasi, dan
meninggalkan jejak kebaikan bagi dunia.


Tulisan ini memberi pesan rasa yang dalam. Ayo menulis agar menjadi mulia
BalasHapusTulisan ngalir banget, enak di baca, calon penulis hebat. tinggal tambahkan gambar dan link pendukung yang diberikan narsum, keep writing and sharing
BalasHapusKeren ABIZZ,semoga menjadi penulis creatif dan produktif
BalasHapus