Total Tayangan Halaman

Senin, 15 September 2025

Serba Serbi Pada Kegiatan Sumatif Tengah Semester (STS)

 

Dokumen kegiatan STS

Cerita Guru pada Kegiatan STS

Setiap kali tiba saat Sumatif Tengah Semester (STS), suasana Sekolah selalu berbeda dari biasanya. Pagi ini, anak-anak datang dengan wajah yang beragam. Ada yang semangat, ada yang gugup, ada juga yang santai seolah ujian hanyalah rutinitas biasa. Bagi guru, ini adalah momen penting, karena bukan hanya siswa yang diuji, tetapi juga kesabaran dan ketelatenan guru.

Begitu lembar soal dibagikan, kelas mendadak hening. Suara kertas yang dibalik-balik terdengar jelas. Beberapa anak langsung menunduk serius, membaca soal, lalu menuliskan jawaban dengan percaya diri. Tapi tidak sedikit pula yang tampak kebingungan. Ada yang membaca soal berulang kali, ada yang menggigit pensil sambil berpikir keras, bahkan ada yang hanya menatap kosong kertas ujiannya.

Di kelas satu dan kelas dua, tantangan itu terasa lebih nyata. Guru benar-benar diuji kesabarannya. Anak-anak di usia itu masih belajar memahami instruksi, apalagi membaca soal yang panjang. Ada yang cepat menangkap maksud soal, tapi banyak juga yang perlu dibimbing lebih pelan-pelan. Tidak jarang, guru harus membacakan soal satu per satu, dengan suara tenang, agar anak-anak bisa mengerti maksud pertanyaannya.

Coba perhatikan baik-baik, Nak. Soalnya begini… sekarang menurut kamu jawabannya apa?

 Begitulah cara guru membimbing. Kadang harus diulang beberapa kali, kadang harus disertai contoh sederhana. Ada anak yang langsung paham setelah mendengar penjelasan, ada juga yang butuh waktu lebih lama. Tapi semua dilayani dengan sabar.

Keunikan di kelas satu dan dua adalah suasana yang penuh warna. Guru bukan hanya memberi soal, tapi juga menjadi pendamping yang setia. Anak-anak kadang bertanya berulang kali dengan nada polos, seakan ingin memastikan mereka tidak salah. Guru pun tersenyum dan menjawab dengan penuh kelembutan, karena tahu bahwa itulah proses belajar mereka.

Sementara itu, di kelas yang lebih tinggi, tantangannya berbeda. Ada siswa yang terburu-buru ingin cepat selesai, ada yang teliti sekali sampai waktu hampir habis baru mengumpulkan, dan ada yang masih gugup karena takut salah. Semua itu menunjukkan betapa beragamnya karakter siswa dalam menghadapi ujian.

Namun, dari semua perbedaan itu, ada satu hal yang sama: peran guru yang sabar selalu menjadi kunci. Guru tidak memberikan jawaban secara langsung, tetapi memberi arahan, petunjuk, dan motivasi agar siswa bisa menemukan sendiri jawaban yang tepat.

Di akhir waktu ujian, guru bisa melihat ekspresi lega di wajah anak-anak. Ada yang tersenyum karena berhasil menyelesaikan semua soal, ada yang sedikit cemberut karena merasa ada yang sulit, tetapi semuanya sudah berusaha dengan sungguh-sungguh.

Itulah cerita sederhana tapi penuh makna dari kegiatan STS. Guru belajar memahami karakter anak satu per satu, terutama di kelas rendah di mana proses membimbing jauh lebih intens. Dan mungkin banyak guru yang merasakan hal yang sama: bahwa setiap ujian bukan hanya milik siswa, tapi juga ujian kesabaran bagi kita sebagai pendidik.

Apakah teman-teman guru ada yang merasakan hal yang sama?


Boleh komen dong disini!!!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar