Jabatan Akan Berakhir, Hisab Menanti
Ada masa dalam hidup ketika seseorang begitu sibuk mengejar jabatan. Hari-hari dihabiskan dengan rapat, target, ambisi, dan strategi. Nama mulai dikenal, panggilan berubah lebih terhormat, dan kursi yang diduduki terasa istimewa. Pada fase itu, jabatan sering terasa seperti puncak keberhasilan hidup. Seolah ketika jabatan diraih, segalanya menjadi lebih berarti.
Padahal, jika kita mau jujur pada diri sendiri, jabatan hanyalah titipan waktu.
Tak ada satu pun jabatan yang benar-benar abadi. Sehebat apa pun seseorang, setinggi apa pun posisinya, selalu ada batas yang tak bisa dilewati: masa berakhir. Ada yang berakhir karena pensiun, ada yang berakhir karena pergantian kepemimpinan, ada pula yang berakhir secara tiba-tiba, tanpa aba-aba. Kursi yang hari ini kita duduki dengan penuh kuasa, besok bisa saja sudah menjadi milik orang lain. Ruangan yang dulu ramai menyebut nama kita, perlahan menjadi sunyi.
Namun, yang sering luput dari perenungan adalah satu hal penting: ketika jabatan berakhir, pertanggungjawaban tidak ikut selesai. Justru di situlah semuanya benar-benar dimulai. Hisab menanti.
Setiap keputusan yang pernah kita ambil akan kembali dipertanyakan. Keputusan yang dulu kita anggap kecil, mungkin ternyata berdampak besar bagi orang lain. Sebuah tanda tangan yang terasa ringan, bisa jadi membawa konsekuensi panjang dalam hidup banyak orang. Kalimat singkat yang kita ucapkan dengan nada tinggi, mungkin masih teringat sebagai luka oleh mereka yang menerimanya.
Di hadapan Allah, tidak ada ruang untuk pencitraan. Tidak ada panggung kehormatan. Tidak ada staf, protokol, atau pengawal. Yang tersisa hanyalah diri kita, berdiri sendirian, membawa seluruh rekam jejak hidup yang tak pernah benar-benar hilang.
Jabatan sejatinya adalah ujian, bukan hadiah. Ia menguji apakah seseorang tetap rendah hati ketika dihormati, tetap adil ketika berkuasa, dan tetap jujur ketika memiliki kesempatan untuk menyimpang. Sayangnya, tidak semua orang lulus dalam ujian ini. Ada yang tergelincir oleh pujian, ada yang terlena oleh fasilitas, dan ada pula yang lupa bahwa kekuasaan tanpa keadilan hanya akan meninggalkan penyesalan.
Saat masih berjabatan, dunia sering terlihat ramah. Banyak senyum, banyak ucapan terima kasih, banyak yang mendekat. Namun ketika jabatan itu dilepas, barulah kita tahu siapa yang benar-benar menghargai kita sebagai manusia, bukan sebagai posisi. Kesepian setelah jabatan sering kali menjadi cermin paling jujur tentang hidup yang telah kita jalani.
Renungan ini bukan untuk membuat kita takut pada jabatan, apalagi menolaknya. Jabatan tetaplah amanah yang mulia jika dijalani dengan niat yang lurus. Melalui jabatan, seseorang bisa membuka banyak pintu kebaikan, mempermudah urusan orang lain, dan menghadirkan keadilan di tempat yang sebelumnya gelap. Jabatan bisa menjadi ladang pahala yang luas, jika dijalani dengan kesadaran bahwa semua ini hanya sementara.
Sebab pada akhirnya, jabatan akan pergi dengan sendirinya. Tak perlu kita dorong, tak perlu kita lawan. Ia akan berakhir sesuai waktunya. Yang perlu kita siapkan adalah diri kita sendiri—dengan hati yang bersih, niat yang lurus, dan jejak kebaikan yang nyata.
Ketika kelak nama kita tak lagi disebut dengan gelar, semoga masih ada doa yang menyebut nama kita dengan tulus. Dan ketika kita berdiri di hadapan Allah, semoga jabatan yang pernah kita emban tidak menjadi alasan penyesalan, melainkan saksi bahwa kita telah berusaha menjalani amanah sebaik yang kita mampu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar