Ketika
mendapat amanah sebagai kepala sekolah, saya semakin memahami bahwa memimpin
sekolah bukan sekadar memastikan administrasi selesai dan pembelajaran berjalan
sesuai jadwal. Ada tanggung jawab yang lebih besar: menciptakan lingkungan
belajar yang membuat guru dan peserta didik terus bertumbuh. Salah satu hal
yang kemudian menjadi perhatian saya adalah budaya literasi.
Perhatian itu
semakin kuat ketika kami membaca hasil Rapor Pendidikan. Ketika melihat Rapor
Pendidikan, saya menemukan bahwa capaian literasi sekolah mengalami penurunan.
Data itu membuat saya tidak nyaman. Bukan karena angka tersebut membuat sekolah
terlihat kurang baik, tetapi karena saya menyadari bahwa di balik angka itu ada
kemampuan anak yang harus kami kembangkan.
Bagi saya, angka tersebut bukan sekadar angka
dalam sebuah laporan. Di baliknya ada proses pembelajaran, kebiasaan membaca,
kemampuan memahami bacaan, kemampuan bernalar, serta pengalaman belajar yang
dialami peserta didik setiap hari. Saya memilih tidak melihat penurunan itu
sebagai sesuatu yang harus ditutupi, apalagi mencari siapa yang harus
disalahkan. Saya menjadikannya sebagai cermin untuk bertanya: apa yang harus
kami perbaiki, dan dari mana perubahan itu harus dimulai?
Pertanyaan
tersebut kemudian saya bawa dalam pembicaraan bersama guru. Kami melihat
kembali kegiatan literasi yang selama ini berjalan. Kami mencoba memahami
kebiasaan membaca peserta didik, pemanfaatan buku, proses pembelajaran di
kelas, serta ruang yang tersedia bagi anak untuk membaca, menulis, berbicara,
memahami informasi, dan menyampaikan pendapat. Dari refleksi itu saya semakin
yakin bahwa budaya literasi tidak bisa dibangun hanya melalui program yang
tertulis dalam dokumen sekolah. Program dapat dibuat dalam waktu singkat,
tetapi budaya membutuhkan keteladanan, kebiasaan, konsistensi, dan kesabaran.
Saya
kemudian memilih memulai dari hal yang sederhana. Anak-anak diberi kesempatan
membaca sebelum pembelajaran dimulai. Tidak harus buku yang tebal dan tidak
harus selalu bacaan yang sama. Mereka diberi kesempatan memilih bacaan sesuai
minat dan tingkat kemampuannya. Ada yang membaca cerita anak, buku pengetahuan,
majalah, maupun buku sederhana yang tersedia di sekolah.
Pada
awalnya, hasilnya belum seperti yang saya bayangkan. Ada anak yang
sungguh-sungguh membaca, tetapi ada pula yang sekadar membuka halaman. Ada yang
cepat bosan dan lebih tertarik berbicara dengan temannya. Saya tidak ingin
langsung menyimpulkan bahwa anak-anak tidak suka membaca. Saya justru bertanya
kepada diri sendiri dan kepada guru: jangan-jangan cara kami yang perlu
diperbaiki.
Saya sering
menyampaikan kepada guru bahwa anak tidak dapat dipaksa mencintai membaca hanya
dengan perintah. Mereka perlu mengalami bahwa membaca itu menyenangkan dan
memiliki hubungan dengan kehidupan mereka. Karena itu, kegiatan membaca kami
kembangkan. Setelah membaca, anak dapat menceritakan kembali isi buku, membuat
gambar berdasarkan cerita, menuliskan hal yang menarik, atau berdiskusi dengan
teman. Membaca tidak berhenti pada melihat tulisan, tetapi dilanjutkan dengan
memahami, mengolah, dan menyampaikan kembali informasi.
Perlahan
saya mulai melihat perubahan. Anak-anak yang sebelumnya malu berbicara mulai
berani tampil. Mereka mempunyai cerita untuk disampaikan. Ada yang menceritakan
tokoh dalam buku, ada yang menjelaskan pengetahuan baru, dan ada pula yang
menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman mereka sendiri. Dari sebuah buku
sederhana ternyata dapat lahir percakapan yang panjang. Dari percakapan itu
anak belajar memahami, berpikir, dan menyampaikan pendapat.
Dalam
proses tersebut saya menyadari bahwa guru harus menjadi teladan. Sulit mengajak
anak mencintai membaca jika orang dewasa di sekitarnya tidak menunjukkan
kebiasaan membaca. Karena itu, saya mengajak guru untuk membangun kebiasaan
membaca, berdiskusi, menulis, dan berbagi pengalaman. Saya sendiri berusaha
menempatkan diri bukan hanya sebagai kepala sekolah yang meminta guru
menjalankan program, tetapi sebagai bagian dari proses belajar. Ketika kita
meminta guru berubah, kita pun harus siap berubah.
Saya sering
mengatakan kepada guru bahwa sekolah yang ingin berkembang harus menjadi
sekolah yang mau belajar. Belajar tidak hanya melalui pelatihan atau seminar.
Membaca, berdiskusi, menulis, mencoba hal baru, dan berbagi pengalaman juga
merupakan bagian dari proses belajar. Bagi saya, kepala sekolah tidak cukup
hanya menjadi pembuat program. Kepala sekolah harus hadir sebagai penggerak,
memberi contoh, membuka ruang refleksi, dan memastikan bahwa perubahan dapat
dilakukan bersama.
Hasil Rapor
Pendidikan kami gunakan sebagai bahan untuk belajar. Ketika capaian literasi
menurun, kami tidak ingin sekadar mengejar angka agar laporan berikutnya
terlihat lebih baik. Yang kami cari adalah perubahan nyata dalam kemampuan
anak. Kami mulai memberi perhatian lebih pada kemampuan memahami bacaan. Anak
tidak hanya diminta membaca teks, tetapi juga menemukan informasi penting,
menjelaskan isi bacaan dengan bahasa sendiri, menyimpulkan, membandingkan
informasi, dan memberikan pendapat.
Saya
semakin memahami bahwa anak yang dapat membaca dengan lancar belum tentu
memahami apa yang dibacanya. Karena itu, kegiatan pembelajaran harus memberi
ruang kepada anak untuk berpikir setelah membaca. Guru kami dorong untuk
mengajukan pertanyaan yang tidak selalu memiliki jawaban langsung di dalam
teks: Mengapa hal itu terjadi? Apa yang akan terjadi jika kondisinya berbeda?
Menurutmu, apa yang dapat dilakukan? Apa hubungan bacaan itu dengan kehidupan kita?
Pertanyaan sederhana seperti itu membuat membaca bergerak menjadi kegiatan
berpikir.
Kami juga
melihat kembali lingkungan sekolah. Jika ingin literasi hidup, sekolah harus
menjadi lingkungan yang kaya dengan bacaan dan tulisan. Sudut baca, papan
karya, majalah dinding, hasil tulisan peserta didik, dan berbagai informasi
sederhana kami manfaatkan sebagai bagian dari lingkungan belajar. Saya tidak
ingin perpustakaan hanya menjadi tempat menyimpan buku. Perpustakaan harus
menjadi tempat yang hidup, tempat anak memilih buku, membaca sesuai minat,
kemudian berbagi cerita tentang apa yang mereka baca.
Karya
peserta didik juga kami tempatkan sebagai bagian penting dari budaya literasi.
Anak yang sudah menulis perlu merasakan bahwa tulisannya dihargai. Tulisan
sederhana mereka dapat dipajang di kelas atau lingkungan sekolah. Saya pernah
melihat anak yang awalnya kurang percaya diri menjadi lebih bersemangat setelah
tulisannya mendapatkan apresiasi. Teman-temannya membaca dan gurunya memberikan
penghargaan. Dari sana muncul keinginan untuk menulis lagi. Saya belajar bahwa
apresiasi kecil dapat menjadi energi besar bagi seorang anak.
Kegiatan
membaca kemudian kami hubungkan dengan menulis. Anak tidak langsung diminta
menghasilkan tulisan panjang. Kami mulai dari pengalaman yang paling dekat
dengan kehidupan mereka: Apa yang kamu baca? Apa yang paling menarik? Apa yang
kamu pelajari? Ceritakan pengalamanmu hari ini. Pertanyaan-pertanyaan sederhana
itu menjadi jalan bagi anak untuk mulai menulis.
Tulisan
mereka tentu belum sempurna. Ada yang masih pendek, susunan kalimatnya belum
baik, dan tanda bacanya masih perlu diperbaiki. Namun saya tidak ingin
kesalahan menjadi alasan untuk menghentikan mereka. Saya ingin mereka memahami
bahwa menulis adalah proses. Tulisan pertama tidak harus sempurna. Yang penting
adalah berani memulai, mau membaca kembali, dan bersedia memperbaikinya.
Dari
tulisan-tulisan sederhana itu, kami justru dapat melihat dunia anak. Mereka
menulis tentang keluarga, teman, sekolah, permainan, kegiatan Pramuka,
pengalaman mengikuti perlombaan, lingkungan sekitar, dan cita-cita. Di situlah
saya semakin yakin bahwa literasi bukan hanya tentang buku. Literasi adalah
tentang memberi kesempatan kepada anak untuk mengenal dunia dan menyampaikan
apa yang ada dalam pikirannya.
Saya juga
semakin yakin bahwa membangun budaya literasi tidak selalu membutuhkan biaya
besar. Kita sering berpikir bahwa literasi harus dimulai dengan banyak buku
baru, ruang khusus, atau fasilitas yang lengkap. Padahal, banyak hal dapat
dilakukan dengan memanfaatkan apa yang sudah ada. Lingkungan sekolah dapat
menjadi sumber belajar. Pengalaman anak dapat menjadi bahan tulisan. Kegiatan
sekolah dapat menjadi bahan laporan. Percakapan guru dan peserta didik dapat
menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan berbicara dan berpikir.
Ketika anak
mengamati tanaman di halaman sekolah, misalnya, mereka dapat membaca informasi
tentang tanaman tersebut. Ketika mengikuti kegiatan sekolah, mereka dapat
menulis pengalaman. Ketika melihat sebuah peristiwa, mereka dapat belajar
bertanya dan mencari informasi. Dengan cara seperti itu, literasi tidak lagi
menjadi kegiatan yang berdiri sendiri. Literasi masuk ke dalam kehidupan
sehari-hari.
Tentu
perjalanan ini tidak selalu mudah. Guru memiliki banyak tugas, peserta didik
memiliki kegiatan yang beragam, dan waktu pembelajaran terbatas. Ada saat
ketika semangat menurun dan kegiatan yang direncanakan tidak berjalan sesuai
harapan. Pada saat seperti itu, saya kembali mengingatkan diri sendiri bahwa
budaya tidak dibangun dalam satu atau dua minggu. Budaya dibangun melalui
kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang.
Karena itu,
saya tidak ingin membebani guru dengan terlalu banyak kegiatan. Saya lebih
memilih sedikit kegiatan yang dilakukan secara konsisten daripada banyak
program yang hanya berjalan sesaat. Ketika ada beberapa anak yang mulai
tertarik membaca, itu adalah kemajuan. Ketika ada anak yang mulai berani
menulis, itu adalah keberhasilan. Ketika guru mulai saling berbagi bacaan dan
pengalaman, itu tanda bahwa budaya belajar sedang tumbuh.
Saya
memahami bahwa peningkatan literasi tidak dapat dicapai oleh kepala sekolah
seorang diri. Guru memiliki peran penting, peserta didik adalah pelaku utama,
tenaga kependidikan mendukung lingkungan sekolah, dan orang tua memiliki peran
yang tidak kalah besar. Karena itu, komunikasi dengan orang tua menjadi bagian
dari upaya kami. Kebiasaan membaca tidak boleh berhenti ketika anak
meninggalkan gerbang sekolah.
Di rumah,
orang tua dapat mengajak anak membaca cerita, berdiskusi tentang pengalaman
sekolah, atau sekadar bertanya apa yang dipelajari hari itu. Saya percaya
percakapan antara orang tua dan anak juga merupakan bagian dari literasi. Anak
belajar mendengarkan, berbicara, menyampaikan pendapat, dan memahami sudut
pandang orang lain.
Dalam
proses ini saya semakin memahami bahwa literasi memiliki hubungan erat dengan
karakter dan kemampuan berpikir. Anak yang terbiasa membaca memiliki lebih
banyak kesempatan mengenal berbagai sudut pandang. Anak yang terbiasa menulis
belajar menyusun pikirannya. Anak yang terbiasa berdiskusi belajar menghargai
pendapat orang lain. Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat anak menjadi pembaca
buku, tetapi membentuk anak yang mampu berpikir.
Ketika
seorang anak bertanya, sebenarnya ia sedang belajar. Ketika seorang anak
mengatakan, “Saya tidak setuju karena…”, ia sedang belajar berpikir kritis.
Ketika seorang anak mampu menjelaskan kembali isi bacaan dengan bahasa sendiri,
ia sedang belajar memahami informasi. Karena itu, saya ingin budaya literasi
memberi ruang kepada anak untuk bertanya, mencoba, berdiskusi, membaca,
menulis, dan menyampaikan pendapat.
Perkembangan
teknologi juga membawa tantangan baru. Anak-anak hidup di tengah derasnya
informasi. Mereka tidak hanya membaca buku, tetapi juga menerima informasi
melalui telepon genggam, internet, media sosial, dan berbagai platform digital.
Maka literasi hari ini tidak cukup hanya mengajarkan membaca dan menulis. Anak
perlu belajar memilih informasi, memahami sumber informasi, membedakan
informasi yang dapat dipercaya dan yang tidak, serta menggunakan teknologi
secara bijak.
Bagi saya,
inilah alasan mengapa Rapor Pendidikan perlu dibaca secara serius dan jujur.
Ketika kemampuan literasi menurun, kita tidak cukup mengatakan bahwa anak
kurang membaca. Kami perlu melihat proses pembelajaran secara menyeluruh.
Apakah anak mendapatkan cukup kesempatan membaca? Apakah bacaan sesuai dengan
usia dan minat mereka? Apakah pembelajaran mendorong mereka memahami dan
berpikir? Apakah guru mendapatkan dukungan? Apakah lingkungan sekolah sudah
cukup memberi ruang untuk literasi? Pertanyaan-pertanyaan itu membantu kami
agar tidak berhenti pada angka.
Rapor
Pendidikan akhirnya tidak lagi kami lihat sebagai dokumen yang hanya dibaca
ketika diperlukan. Bagi saya, ia menjadi bahan refleksi untuk menentukan
langkah. Data memberi arah, tetapi perubahan terjadi melalui tindakan. Dari
sana kami belajar bahwa tugas kepala sekolah bukan menyembunyikan kelemahan
sekolah, melainkan berani mengakuinya, mengajak warga sekolah memahaminya, lalu
bergerak memperbaikinya.
Saya
menyadari bahwa perjalanan menghidupkan budaya literasi belum selesai. Selalu
ada anak baru yang harus dibimbing, guru yang perlu didukung, dan tantangan
baru yang harus dihadapi. Namun saya percaya perubahan besar dalam pendidikan
sering kali dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan konsisten.
Mungkin
hanya lima belas menit membaca. Mungkin hanya satu halaman buku. Mungkin hanya
satu paragraf tulisan seorang anak. Mungkin hanya satu pertanyaan yang diajukan
di kelas. Namun jika kebiasaan kecil itu terus dilakukan, lama-kelamaan ia
menjadi budaya.
Sebagai
kepala sekolah, saya tidak ingin budaya literasi hanya menjadi tulisan di
dinding atau program yang tercantum dalam dokumen sekolah. Saya ingin melihat
anak mengambil buku karena ingin tahu. Saya ingin melihat guru membaca dan
berbagi. Saya ingin melihat karya peserta didik memenuhi ruang sekolah. Saya
ingin melihat anak berani bertanya dan menyampaikan gagasan. Bagi saya, di
situlah literasi benar-benar hidup.
Saya
belajar bahwa sekolah yang baik bukan sekolah yang tidak pernah memiliki
masalah. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mau melihat masalah,
mengakuinya, belajar darinya, dan bersama-sama mencari jalan keluar. Penurunan
capaian literasi dalam Rapor Pendidikan bukan akhir dari cerita. Justru dari
sanalah kami menemukan alasan untuk bergerak lebih sungguh-sungguh.
Perjalanan
ini mengajarkan saya bahwa perubahan pendidikan membutuhkan kesabaran,
keteladanan, kolaborasi, dan konsistensi. Tidak semua hasil dapat terlihat
dengan cepat. Tetapi setiap anak yang mulai menyukai buku, setiap anak yang
berani menulis, setiap guru yang mau terus belajar, dan setiap orang tua yang
mulai terlibat adalah bagian dari perubahan yang sedang kami bangun.
Pada
akhirnya, sebuah buku mungkin hanya memiliki beberapa halaman. Namun bagi
seorang anak, satu halaman yang dibaca dengan rasa ingin tahu dapat membuka
jendela menuju dunia yang luas. Dari satu buku dapat lahir satu pertanyaan.
Dari satu pertanyaan dapat lahir rasa ingin tahu. Dari rasa ingin tahu dapat
lahir kebiasaan belajar. Dan dari kebiasaan belajar itulah masa depan seorang
anak perlahan dibentuk.
Karena itu,
bagi saya, menghidupkan budaya literasi bukan sekadar upaya memperbaiki satu
indikator dalam Rapor Pendidikan. Lebih dari itu, literasi adalah ikhtiar untuk
membangun sekolah yang terus belajar dan menyiapkan anak-anak agar mampu
membaca dunia, memahami perubahan, berpikir kritis, serta berani menentukan
masa depannya. Perjalanan itu mungkin panjang, tetapi saya memilih untuk terus
berjalan bersama guru, peserta didik, orang tua, dan seluruh warga sekolah.
Sebab saya percaya, perubahan yang paling bermakna sering kali dimulai dari
satu kebiasaan kecil yang dilakukan bersama dan tidak pernah berhenti.


lanjutkan membangun budaya literasi dan menjadi contoh yg lain
BalasHapus