Judul : Menjadikan
Menulis Sebagai Passion
Penyusun : Dede
Awaludin, S.Pd.I.
Resume
ke : 2
Gelombang : 33
Hari/Tanggal : Jum’at,
8 Agustus 2025
Tema : Dari
Komitmen Menuju Produktivitas
Narasumber : Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd.
Moderator : Lely Suryani, S.Pd.SD.
Malam itu, suasana di room chat WhatsApp terasa
berbeda. Puluhan peserta sudah menyiapkan diri, sebagian duduk di ruang kerja,
sebagian lain sambil rebahan di rumah. Meski pertemuan dilakukan secara daring,
semangat belajar tetap terasa. Narasumber membuka sesi inti dengan topik yang
begitu dekat dengan keseharian peserta: “Menjadikan
Menulis Sebagai Passion.”
Dengan gaya santai
namun sarat makna, narasumber menyampaikan materi. Bukan hanya berupa teori
kaku, tetapi diperkaya dengan contoh-contoh nyata, studi kasus, serta media
pendukung. Metodenya interaktif, sehingga peserta bisa langsung terlibat,
mengajukan komentar, bahkan berbagi pengalaman pribadi. Dari awal saja sudah
jelas: pelatihan ini bukan sekadar ceramah, melainkan ruang belajar bersama.
Di tengah sesi,
muncul sebuah pertanyaan sederhana namun penting: “Sebenarnya, apa itu passion?”
Narasumber
tersenyum sebelum menjawab. Passion, katanya, bukanlah hobi biasa. Passion
adalah dorongan kuat dari dalam diri yang membuat kita terus bergerak, meski
harus melewati jalan terjal. Dalam dunia menulis, passion adalah bahan bakar
utama. Ia yang membuat kita tetap menulis walau ide terasa buntu, walau waktu
terasa sempit, walau semangat hampir padam.
Menulis bukan sekadar merangkai kata demi kata.
Menulis adalah tentang meninggalkan jejak. Setiap kalimat yang kita torehkan
adalah rekaman pikiran, perasaan, bahkan pengalaman hidup. Bayangkan suatu hari
nanti, ada seseorang yang menemukan tulisan kita, lalu merasa terinspirasi atau
termotivasi karenanya.
Narasumber mengajak
peserta untuk menengok kembali: Apa alasan
Anda menulis?
Setidaknya, ada beberapa hal yang bisa menjadi
jawaban:
1.
Menulis untuk
mengekspresikan diri. Saat kata-kata lisan bisa hilang begitu saja,
tulisan tetap abadi. Ia menyimpan ide, mimpi, bahkan keresahan yang ingin kita
bagikan.
2.
Menulis untuk
berkomunikasi melampaui ruang dan waktu. Tulisan Anda bisa menjangkau
orang yang bahkan belum pernah Anda temui. Tulisan hari ini bisa dibaca
seseorang puluhan tahun mendatang.
3.
Menulis untuk
mengembangkan diri. Proses menulis melatih kita berpikir jernih,
menyusun logika, sekaligus memperkaya wawasan.
4.
Menulis untuk
meninggalkan warisan. Suatu hari, tulisan kita bisa menjadi inspirasi
atau pelajaran berharga bagi generasi berikutnya.
Di sinilah
pentingnya menemukan the why. Tanpa
alasan yang kuat, passion mudah pudar. Salah satu cara menemukan alasan itu
adalah dengan berani menjelajah.
Cobalah berbagai genre tulisan: puisi, cerpen, artikel opini, hingga catatan
reflektif. Jangan takut salah, karena passion sering lahir dari proses
eksplorasi, bukan dari menunggu datangnya inspirasi.
Mulailah dari hal
kecil. Tulis di jurnal harian, buat catatan singkat, atau rangkai cerita pendek
sederhana. Jangan terbebani target besar seperti harus menulis novel ratusan
halaman. Nikmati saja prosesnya. Menulis adalah perjalanan panjang. Semakin
sering kita mencoba, semakin jelas alasan mengapa kita ingin terus menulis.
Ada satu hal yang sering membuat orang gagal menulis: terlalu cepat menuntut
hasil. Padahal, menulis bukan perlombaan cepat sampai. Ia lebih seperti
perjalanan yang harus dinikmati langkah demi langkah.
Agar passion tetap hidup, lakukan hal-hal
sederhana berikut:
1) Atur target kecil dan realistis.
Misalnya satu paragraf per hari, atau satu halaman per minggu.
2) Nikmati proses, bukan hanya hasil. Setiap
kata yang tertulis adalah bukti perkembangan kita sebagai penulis.
3)
Tulis untuk diri sendiri terlebih dahulu.
Jangan langsung tertekan oleh ekspektasi pembaca. Jika kita sendiri menikmati
tulisan itu, besar kemungkinan orang lain juga akan menikmatinya.
Passion tanpa komitmen ibarat api yang cepat
padam. Komitmenlah yang menjadikan passion sebagai kebiasaan produktif.
Komitmen bisa
dimulai dengan hal sederhana: mengatur
waktu menulis. Jadwalkan waktu menulis seperti janji penting lain.
Tulis di kalender, buat pengingat, dan yang terpenting: hormati janji pada diri
sendiri.
Ada dua hal penting yang membantu menjaga
komitmen:
1.
Desain ruang
kreatif. Ruang kerja yang nyaman, rapi, dan bebas gangguan akan
mendukung produktivitas. Siapkan alat tulis atau perangkat yang membuat kita
betah. Kalau perlu, putar musik instrumental untuk membangun fokus.
2.
Punya target
jelas dan realistis. Target harian bisa berupa 500 kata, target
mingguan berupa satu artikel, dan target jangka panjang berupa naskah buku
dalam enam bulan. Target membuat arah perjalanan lebih jelas.
Hambatan terbesar seorang penulis adalah dirinya
sendiri. Writer’s block hanyalah satu di
antaranya. Namun hambatan ini wajar dan bisa diatasi. Narasumber membagikan
beberapa trik:
1) Menulis bebas (free writing). Biarkan
ide mengalir tanpa peduli struktur.
2) Membaca genre lain. Wawasan baru sering
kali melahirkan ide segar.
3)
Berjalan-jalan. Pergantian suasana
bisa memancing inspirasi yang terjebak.
4)
Hindari perfeksionisme. Draf pertama
tidak harus sempurna. Yang penting selesai, sisanya bisa diperbaiki saat
revisi.
Selain itu, penting juga untuk belajar dari umpan balik. Kritik yang
membangun adalah sahabat penulis. Ia membuka mata kita terhadap hal-hal yang
mungkin luput dari perhatian. Bedakan kritik yang membangun dengan kritik yang
menjatuhkan. Fokus pada masukan yang bisa memperbaiki tulisan.
Jangan lupa,
percaya diri adalah kunci. Rasa ragu adalah musuh alami penulis. Lawan dengan
tindakan nyata. Ingat kembali alasan mengapa kita menulis, rayakan pencapaian
sekecil apa pun, dan bandingkan hanya dengan diri sendiri di masa lalu, bukan
dengan orang lain.
Passion akan terus membara bila kita mau mengasah diri. Beberapa langkah
yang bisa ditempuh antara lain:
1) Membaca
buku dari berbagai genre.
2) Mengikuti
workshop atau kelas menulis.
3)
Mempelajari teknik baru agar kualitas tulisan terus
meningkat.
Ingat, proses menulis tidak berhenti di draf
pertama. Menyunting adalah seni
yang menentukan kualitas. Tulis dulu, edit kemudian. Pisahkan proses menulis
dan menyunting agar pikiran lebih fokus. Mintalah orang lain membaca tulisan
kita, karena pandangan mereka biasanya lebih objektif.
Bangun juga portofolio menulis. Buat blog, kumpulkan
karya terbaik, dan bagikan di media sosial atau platform online. Tulisan yang
dipublikasikan tidak hanya menambah jejak digital, tetapi juga menjadi motivasi
untuk terus berkarya.
Agar lebih membumi, narasumber menyajikan kisah sukses penulis hebat.
a) Tere Liye, penulis produktif yang pernah
menargetkan menerbitkan empat buku dalam setahun. Konsistensinya membuat
karyanya merajai rak toko buku di seluruh Indonesia.
b) J.K. Rowling, penulis Harry
Potter, yang dulu hidup sebagai ibu tunggal bergantung pada
tunjangan sosial. Naskahnya sempat ditolak 12 penerbit sebelum akhirnya
mendunia.
Kisah-kisah ini membuktikan:
·
Passion membuat kita berani memulai.
·
Komitmen membuat kita bertahan.
·
Produktivitas adalah buah dari keduanya.
Setelah materi disampaikan, sesi tanya jawab
dibuka. Para peserta antusias berbagi pengalaman, mengajukan pertanyaan, bahkan
menyampaikan keresahan pribadi. Diskusi berlangsung hangat, penuh semangat, dan
saling menguatkan.
Pelatihan ditutup
dengan doa bersama serta ucapan terima kasih. Namun semangat tidak berhenti di
situ. Obrolan santai masih berlanjut di ruang chat, tanda bahwa benih passion
menulis mulai tumbuh di hati para peserta.
Karena
sesungguhnya, menulis bukan sekadar aktivitas. Ia adalah perjalanan panjang,
tempat kita belajar memahami diri, berbagi makna, dan meninggalkan jejak bagi
dunia. Dan seperti kata narasumber di akhir sesi:
“Passion membuat
kita memulai. Komitmen membuat kita bertahan. Dan menulis, akan membuat kita
abadi.”

Mantap tulisannya pak
BalasHapusBaguuus resumanya
BalasHapusterimakasih udah mampir salam sehat, bahagia
BalasHapusKalau mrnulis sudah menjadi passion maka sehari tak menulis terasa ada yg hilang hehehe
BalasHapus