Judul : Menulis
Dongeng Dan Cerita Fabel
Penyusun :
Dede Awaludin, S.Pd.I.
Resume
ke : 5
Gelombang :
33
Hari/Tanggal :
Jum’at, 15 Agustus 2025
Tema :
Menulis
Dongeng Dan Cerita Fabel
Narasumber :
Helwiyah, S.Pd.,M.M
Moderator : Maesaroh M.Pd.
Materi Malam ini Tanggal 15
Agustus 2025 Demi kelancaran dan keteraturan pelaksanaan pelatihan pada
malam hari ini, Modelator telah menyusun urutan acara secara runtut agar setiap
tahap kegiatan dapat berjalan efektif dan mencapai tujuan yang diharapkan.
Susunan acara ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang
terstruktur, diantaranya:
Sejak dahulu kala, manusia selalu punya cara
untuk bercerita. Di berbagai belahan dunia, cerita bukan hanya sarana hiburan,
melainkan juga media untuk menanamkan nilai, menyampaikan pengalaman, bahkan
mengabadikan sejarah. Di antara banyak bentuk cerita rakyat, dongeng menempati posisi yang istimewa.
Dongeng hadir sebagai
cerita sederhana yang diwariskan dari mulut ke mulut. Ia sering kali lahir di
tengah masyarakat desa, di perapian rumah, atau di balai tempat orang-orang
berkumpul. Meski tidak benar-benar terjadi, dongeng terasa hidup karena penuh
dengan tokoh, konflik, dan pesan moral yang mudah dipahami.
Bagi anak-anak,
dongeng adalah pintu menuju dunia imajinasi. Bagi orang dewasa, dongeng adalah
cara lembut untuk menyampaikan nasihat atau kritik sosial. Dan bagi masyarakat
luas, dongeng adalah warisan budaya yang memperkaya identitas.
Lalu, apa
sebenarnya yang dimaksud dengan dongeng? Mari kita telusuri lebih dalam.
Apa Itu Dongeng?
Dongeng bisa kita
pahami sebagai cerita rakyat yang bersifat fiksi. Artinya, cerita itu tidak
benar-benar terjadi, melainkan hasil imajinasi dan kreativitas manusia. Namun,
meskipun imajiner, dongeng tetap punya fungsi nyata dalam kehidupan: menghibur,
mendidik, dan menanamkan nilai.
Salah satu ciri
khas dongeng adalah adanya tokoh-tokoh unik. Ada kancil yang bisa berbicara,
buaya yang penuh tipu daya, raksasa yang menakutkan, hingga manusia biasa yang
memiliki kekuatan luar biasa. Semua tokoh itu dirangkai dalam alur cerita yang
sederhana, sering kali ditutup dengan pesan moral yang jelas.
Di Indonesia,
dongeng tidak hanya sekadar kisah pengantar tidur. Lebih dari itu, ia adalah
media untuk memperkenalkan budaya, adat istiadat, serta pandangan hidup
masyarakat kepada generasi berikutnya. Setiap daerah punya dongengnya
masing-masing, sehingga dongeng bisa dianggap sebagai “cermin kecil” dari
keragaman budaya bangsa.
Supaya lebih mudah membedakannya dari cerita lain, mari kita lihat ciri-ciri
khas dongeng.
1.
Bersifat Fiksi
Dongeng bukanlah catatan sejarah atau berita nyata. Ceritanya rekaan, penuh
imajinasi, meski hikmah yang terkandung di dalamnya bisa dipetik dalam
kehidupan sehari-hari.
2.
Disampaikan
Secara Lisan
Sebelum ditulis dalam buku, dongeng hidup di tengah masyarakat lewat tuturan
lisan. Anak-anak mendengarnya dari kakek, nenek, atau orang tuanya, lalu kelak
mereka akan menceritakan ulang pada anak cucunya.
3.
Menghibur
sekaligus Mendidik
Dongeng membuat pendengarnya terhibur, tapi di balik itu selalu ada pesan
moral. Misalnya, kisah kancil yang cerdik mengajarkan kecerdikan harus
digunakan dengan bijak, bukan untuk menipu.
4.
Bahasa yang
Sederhana
Dongeng tidak menggunakan bahasa yang rumit. Kalimat-kalimatnya singkat, jelas,
dan mudah dipahami. Inilah sebabnya dongeng bisa dinikmati oleh berbagai
kalangan.
5.
Tokoh yang Beragam
Tokoh dalam dongeng bisa manusia, hewan, atau makhluk gaib. Uniknya, hewan
dalam dongeng sering kali digambarkan berperilaku seperti manusia—bicara,
berpikir, dan berinteraksi.
6.
Waktu dan Tempat
Tidak Pasti
Hampir semua dongeng diawali dengan kalimat khas seperti “pada zaman dahulu”
atau “di negeri antah berantah.” Hal ini menunjukkan bahwa dongeng memang tidak
terikat dengan waktu dan tempat tertentu.
Mengapa dongeng begitu penting dan terus diceritakan dari masa ke masa?
Jawabannya ada pada fungsinya yang sangat beragam.
1.
Sebagai Hiburan
Dongeng membuat suasana menjadi hangat dan penuh tawa. Anak-anak mendengarkan
dengan mata berbinar, sementara orang tua merasa terhubung dengan anak-anaknya.
2.
Sarana Pendidikan
Moral
Di balik setiap kisah, terselip pesan kehidupan. Ada dongeng yang mengajarkan
kejujuran, ada yang menekankan pentingnya keberanian, ada pula yang menyoroti
kerja sama dan tolong-menolong.
3.
Pelestarian Budaya
Dongeng adalah wadah yang menyimpan nilai-nilai budaya. Dari dongeng, kita bisa
tahu bagaimana pandangan masyarakat terhadap alam, manusia, dan kehidupan.
4.
Pengembangan
Imajinasi
Dunia dongeng penuh dengan hal-hal yang mustahil dalam kenyataan: binatang
bicara, manusia terbang, atau negeri ajaib di atas awan. Hal ini justru
merangsang daya imajinasi dan kreativitas anak-anak.
5.
Media Komunikasi
Sosial
Kadang, dongeng digunakan untuk menyampaikan kritik sosial. Dengan bercerita,
orang bisa menyampaikan pesan tanpa menyinggung langsung, tetapi tetap memberi
makna yang mendalam.
Dongeng ternyata tidak hanya satu bentuk. Berdasarkan isinya, dongeng dapat
dibagi menjadi beberapa jenis berikut:
1.
Fabel
Fabel adalah dongeng yang tokohnya hewan, tetapi berperilaku seperti manusia.
Contohnya kisah Kancil dan Buaya, yang mengajarkan kecerdikan dan juga kehati-hatian.
2.
Legenda
Legenda adalah cerita rakyat yang dipercaya benar-benar terjadi, biasanya
berkaitan dengan asal-usul suatu tempat atau benda. Contoh paling terkenal
adalah Legenda Danau Toba atau Legenda Malin Kundang.
3.
Mite (Mitos)
Dongeng yang satu ini berhubungan dengan hal-hal gaib, dewa, roh, atau makhluk
mistis. Misalnya, cerita Dewi Sri yang diyakini sebagai dewi padi dalam budaya
Jawa dan Bali.
4.
Sage
Sage berisi kisah kepahlawanan atau sejarah yang dibumbui fantasi. Kisah Si
Pitung dari Betawi atau Gadjah Mada dari Jawa sering digolongkan sebagai sage.
5.
Cerita Jenaka
Dongeng jenis ini penuh humor dan bertujuan menghibur. Tokohnya bisa licik,
lucu, atau konyol, seperti kisah Si Kabayan dari Jawa Barat atau Abu Nawas dari
Timur Tengah.
Mungkin sebagian orang mengira dongeng hanya
cocok untuk anak-anak. Padahal, dongeng juga relevan bagi orang dewasa. Banyak
perusahaan modern menggunakan dongeng atau storytelling sebagai cara
menyampaikan visi dan misi. Guru-guru pun kerap memakai dongeng untuk
menjelaskan materi pelajaran agar lebih mudah dipahami.
Selain itu, dongeng
juga bisa mempererat hubungan keluarga. Saat orang tua meluangkan waktu
membacakan atau menceritakan dongeng, anak-anak merasa diperhatikan dan
dicintai. Interaksi sederhana ini dapat membentuk ikatan emosional yang kuat.
Bagi siapa saja yang gemar menulis, dongeng bisa
menjadi sumber inspirasi yang tak ada habisnya. Kita bisa menulis ulang dongeng
lama dengan versi baru, menambahkan tokoh modern, atau bahkan menciptakan
dongeng sendiri sesuai dengan nilai yang ingin kita tanamkan.
Misalnya, fabel
tentang kancil bisa diubah menjadi kisah tentang seekor kelinci kecil yang
berani menghadapi ketakutannya. Atau legenda lokal bisa dipadukan dengan isu
lingkungan modern, sehingga cerita tidak hanya relevan di masa lalu, tetapi
juga memberi pesan kuat untuk masa kini.
Dongeng adalah warisan budaya yang tak ternilai.
Ia sederhana, tetapi penuh makna. Ia fiksi, tetapi mengajarkan realitas
kehidupan. Dari dongeng, kita belajar tentang kebaikan, kebijaksanaan, serta
pentingnya menjaga nilai budaya.
Di era digital sekalipun,
dongeng tetap punya tempat. Bedanya, kini ia bisa hadir dalam bentuk buku
bergambar, film animasi, hingga cerita audio yang bisa diakses kapan saja.
Namun, esensi dongeng tetap sama: menyampaikan pesan hidup dengan cara yang
menyenangkan.
Maka, jangan
biarkan dongeng hilang ditelan zaman. Mari terus bercerita, menulis, dan
menghidupkan dongeng—karena di dalamnya tersimpan mutiara kebijaksanaan yang
selalu relevan sepanjang masa.
SMART CAT AND MOUSE ( Dongeng Kucing dan tikus yang pintar )







Wah...lanjutkan fabelnya pak. .di cetak dan jilid sederhana untuk bacaan anak ank
BalasHapus