Judul : Komitmen Menulis di Blog
Penyusun : Dede Awaludin, S.Pd.I.
Resume
ke : 6
Gelombang :
33
Hari/Tanggal :
Senin, 18 Agustus 2025
Tema : Resume Komitmen Menulis di Blog
Narasumber :
Drs. Dedi Dwitagama,M.SI
Moderator : Sim Cung Ewi, S.P.
Resume Komitmen menulis di Blog
Malam itu, suasana kelas daring terasa berbeda.
Para peserta Kelas
Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang ke-33 sudah
menantikan sesi keenam yang menghadirkan seorang narasumber istimewa: Bapak Dedi
Dwitagama.
Beliau bukan sekadar
pendidik, tetapi juga seorang trainer, motivator, dan konsultan pendidikan yang
namanya cukup dikenal di dunia pendidikan Indonesia. Banyak orang mengenalnya
sebagai sosok yang selalu mengajak untuk berpikir kritis, bergerak maju, dan
tidak berhenti berbagi ilmu. Namun, ada satu hal yang membuatnya semakin unik: komitmennya dalam
menulis di blog sejak tahun 2005.
Pak Dedi sudah lama
membuktikan bahwa blog bukan hanya ruang ekspresi pribadi, tetapi juga media
pembelajaran, dokumentasi, dan bahkan inspirasi yang bisa menjangkau banyak
orang. Melalui blog pribadinya di dedidwitagama.wordpress.com,
ia konsisten menuliskan pengalaman, gagasan, dan refleksi, sehingga siapa saja
bisa belajar darinya kapan pun.
Sesi malam itu tidak berlangsung satu arah.
Alih-alih hanya mendengarkan materi, para peserta diberi kesempatan untuk
mengenal lebih dekat sosok narasumber dengan cara yang berbeda. Pak Dedi
meminta setiap peserta untuk mencari informasi tentang dirinya melalui media
sosial dan sumber digital lainnya.
“Silakan cari
biodata saya, lihat blog atau media sosial saya, lalu ceritakan apa yang kalian
temukan,” begitu arahan beliau.
Waktu lima menit
diberikan, dan para peserta pun segera membuka ponsel atau laptop mereka.
Mereka berselancar di dunia maya, menemukan jejak digital seorang pendidik yang
tak kenal lelah berbagi. Ada yang menemukan akun Facebook, ada yang membuka
Instagram, ada pula yang langsung masuk ke blog pribadinya.
Dari hasil
pencarian singkat itu, peserta semakin menyadari betapa konsistennya Pak Dedi
dalam menulis dan membagikan ilmu. Blog yang beliau kelola penuh dengan catatan
pengalaman, artikel pendidikan, refleksi pribadi, hingga dokumentasi berbagai
kegiatan. Dari situ, peserta tidak hanya mengenal siapa beliau, tetapi juga
memahami perjalanan panjangnya sebagai seorang pendidik dan penulis.
Ketika membuka blog beliau, banyak peserta merasa
takjub. Tulisan-tulisan yang ada di sana bukan sekadar kumpulan kata, tetapi
jejak nyata dari perjalanan seorang guru. Ada cerita tentang kegiatan belajar,
pengalaman menghadiri seminar, hingga refleksi tentang isu-isu pendidikan.
Blog itu seakan
menjadi perpustakaan pribadi
yang terus berkembang. Bukan hanya bermanfaat bagi penulisnya, tetapi juga bagi
siapa saja yang membacanya. Peserta malam itu menyadari, betapa pentingnya
memiliki jejak digital yang positif. Apa yang ditulis hari ini bisa dibaca
orang lain bertahun-tahun kemudian, bahkan bisa menjadi sumber inspirasi yang
tak lekang oleh waktu.
Pak Dedi menegaskan
bahwa blog bukan hanya ruang hobi, melainkan media berbagi yang tak terbatas
ruang dan waktu. Jika seorang guru hanya berbicara di
kelas, maka murid yang mendapat manfaat terbatas pada jumlah siswa di kelas itu
saja. Tetapi dengan menulis di blog, manfaat bisa menjangkau ratusan, ribuan,
bahkan jutaan pembaca.
Banyak orang sering ragu untuk memulai menulis di
blog. Alasan yang paling sering muncul adalah takut tulisan dianggap jelek atau
khawatir tidak ada yang membaca. Namun, menurut Pak Dedi, hal itu tidak perlu
menjadi penghalang.
“Yang penting mulai
saja dulu. Jangan terlalu banyak mikir, jangan menunggu sempurna,” ujarnya.
Beliau memberikan
beberapa tips sederhana agar kita bisa mulai menulis di blog tanpa terbebani:
1) Tulislah
apa saja yang terlintas dalam pikiran.
2) Jangan
takut tulisan dianggap jelek. Semua penulis besar pun berawal dari tulisan
sederhana.
3)
Dokumentasikan kegiatan sehari-hari, sekecil apa pun
itu. Suatu saat catatan itu bisa sangat berarti.
4)
Gunakan bahasa sendiri, tulislah dengan hati yang
ikhlas dan gembira.
Pak Dedi juga mengingatkan bahwa media sosial
bisa menjadi sumber ide. Apa yang kita tulis di Facebook atau Instagram bisa
dipindahkan ke blog. Begitu juga sebaliknya, tulisan di blog bisa dibagikan
ulang di media sosial untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Dengan begitu,
satu ide bisa berkembang menjadi banyak manfaat.
Satu hal yang paling ditekankan oleh Pak Dedi
adalah soal komitmen. Menulis
bukan pekerjaan sekali-sekali, tetapi aktivitas yang harus terus dijaga.
Ada beberapa langkah yang beliau sarankan
untuk menjaga komitmen menulis di blog:
1.
Tentukan tujuan
menulis. Apakah untuk berbagi ilmu, mendokumentasikan perjalanan, atau
sekadar melatih keterampilan menulis.
2.
Buat jadwal
rutin. Tidak harus setiap hari, bisa seminggu sekali, dua kali, atau
minimal sebulan sekali. Yang penting konsisten.
3.
Atasi writer’s
block dengan membaca. Jika ide terasa buntu, berhentilah sejenak.
Membaca buku, artikel, atau berita bisa menjadi bahan bakar baru.
4.
Fokus pada topik
tertentu. Jangan menunggu ide besar. Tulis apa saja yang dekat dengan
kehidupan sehari-hari.
Beliau juga
menambahkan, jangan pernah menghapus tulisan lama di blog. Biarkan tetap ada,
meskipun kita merasa tulisan itu sudah ketinggalan zaman atau kurang bagus.
Tulisan lama adalah jejak perjalanan
yang bisa menunjukkan bagaimana kita berkembang.
Dengan begitu,
pembaca bisa melihat proses pertumbuhan ide, sekaligus menyaksikan kualitas
tulisan kita yang semakin baik dari waktu ke waktu.
Lebih dari sekadar media menulis, blog juga bisa
menjadi arsip
kehidupan. Di sana, kita bisa menyimpan dokumentasi berupa
tulisan, foto, video, atau sertifikat kegiatan. Semuanya tersimpan rapi dan
bisa diakses kapan saja.
Pak Dedi
mencontohkan, seorang guru bisa menuliskan pengalaman mengajar, mencatat
refleksi dari kegiatan pelatihan, atau bahkan menulis ulang berita yang sedang
berkembang dengan gaya bahasanya sendiri. Dari situ, blog bisa berfungsi
sebagai portofolio digital yang memperlihatkan perjalanan karier seseorang.
Tentu saja, menulis
di blog memiliki risiko. Ada kemungkinan tulisan kita menuai kritik atau tidak
disukai orang lain. Namun, risiko itu adalah bagian dari proses belajar. Yang
penting, niat menulis tetap dijaga agar apa yang kita hasilkan membawa
kebaikan.
Di akhir sesi, Pak Dedi menyampaikan pesan yang sangat menyentuh hati:
👉
“Menulis itu soal niat baik. Bisa jadi, apa
yang kita tulis kelak menjadi amal jariyah.”
Kalimat itu
sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Tulisan yang kita buat hari ini
mungkin terlihat biasa saja. Namun, siapa tahu suatu saat ada orang yang
menemukan tulisan itu, lalu mendapatkan manfaat darinya. Dan manfaat itu akan
terus mengalir, meskipun penulisnya sudah tiada.
Pesan itu menjadi
pengingat bahwa menulis bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga
untuk memberi arti bagi orang lain. Dengan menulis, kita meninggalkan warisan
pengetahuan, pengalaman, dan inspirasi yang tak akan pernah hilang.
Sesi malam keenam KBMN PGRI bersama Bapak Dedi
Dwitagama bukan hanya membuka wawasan peserta tentang pentingnya menulis,
tetapi juga memberikan motivasi kuat untuk berkomitmen menulis di blog.
Blog bukan sekadar media, tetapi ruang untuk
menebar manfaat. Komitmen menulis adalah kunci, dan niat baik adalah
fondasinya.
Maka, jangan pernah berhenti menulis. Mulailah
dari hal kecil, dokumentasikan perjalanan hidup, dan biarkan tulisan kita
menjadi jejak yang bermanfaat bagi banyak orang. Siapa tahu, tulisan sederhana
hari ini bisa menjadi amal jariyah yang terus hidup di masa depan.

good posting Sir
BalasHapus