Total Tayangan Halaman

Selasa, 19 Agustus 2025

Resume Komitmen Menulis Di Blog

 

Judul                         :  Komitmen Menulis di Blog

Penyusun                  :  Dede Awaludin, S.Pd.I.

Resume ke                :  6

Gelombang               :  33

Hari/Tanggal            :  Senin, 18 Agustus 2025

Tema                        :  Resume Komitmen Menulis di Blog

Narasumber              :  Drs. Dedi Dwitagama,M.SI

Moderator                Sim Cung Ewi, S.P.


Resume Komitmen menulis di Blog

Malam itu, suasana kelas daring terasa berbeda. Para peserta Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang ke-33 sudah menantikan sesi keenam yang menghadirkan seorang narasumber istimewa: Bapak Dedi Dwitagama.

Beliau bukan sekadar pendidik, tetapi juga seorang trainer, motivator, dan konsultan pendidikan yang namanya cukup dikenal di dunia pendidikan Indonesia. Banyak orang mengenalnya sebagai sosok yang selalu mengajak untuk berpikir kritis, bergerak maju, dan tidak berhenti berbagi ilmu. Namun, ada satu hal yang membuatnya semakin unik: komitmennya dalam menulis di blog sejak tahun 2005.

Pak Dedi sudah lama membuktikan bahwa blog bukan hanya ruang ekspresi pribadi, tetapi juga media pembelajaran, dokumentasi, dan bahkan inspirasi yang bisa menjangkau banyak orang. Melalui blog pribadinya di dedidwitagama.wordpress.com, ia konsisten menuliskan pengalaman, gagasan, dan refleksi, sehingga siapa saja bisa belajar darinya kapan pun.

Sesi malam itu tidak berlangsung satu arah. Alih-alih hanya mendengarkan materi, para peserta diberi kesempatan untuk mengenal lebih dekat sosok narasumber dengan cara yang berbeda. Pak Dedi meminta setiap peserta untuk mencari informasi tentang dirinya melalui media sosial dan sumber digital lainnya.

“Silakan cari biodata saya, lihat blog atau media sosial saya, lalu ceritakan apa yang kalian temukan,” begitu arahan beliau.

Waktu lima menit diberikan, dan para peserta pun segera membuka ponsel atau laptop mereka. Mereka berselancar di dunia maya, menemukan jejak digital seorang pendidik yang tak kenal lelah berbagi. Ada yang menemukan akun Facebook, ada yang membuka Instagram, ada pula yang langsung masuk ke blog pribadinya.

Dari hasil pencarian singkat itu, peserta semakin menyadari betapa konsistennya Pak Dedi dalam menulis dan membagikan ilmu. Blog yang beliau kelola penuh dengan catatan pengalaman, artikel pendidikan, refleksi pribadi, hingga dokumentasi berbagai kegiatan. Dari situ, peserta tidak hanya mengenal siapa beliau, tetapi juga memahami perjalanan panjangnya sebagai seorang pendidik dan penulis.

Ketika membuka blog beliau, banyak peserta merasa takjub. Tulisan-tulisan yang ada di sana bukan sekadar kumpulan kata, tetapi jejak nyata dari perjalanan seorang guru. Ada cerita tentang kegiatan belajar, pengalaman menghadiri seminar, hingga refleksi tentang isu-isu pendidikan.

Blog itu seakan menjadi perpustakaan pribadi yang terus berkembang. Bukan hanya bermanfaat bagi penulisnya, tetapi juga bagi siapa saja yang membacanya. Peserta malam itu menyadari, betapa pentingnya memiliki jejak digital yang positif. Apa yang ditulis hari ini bisa dibaca orang lain bertahun-tahun kemudian, bahkan bisa menjadi sumber inspirasi yang tak lekang oleh waktu.

Pak Dedi menegaskan bahwa blog bukan hanya ruang hobi, melainkan media berbagi yang tak terbatas ruang dan waktu. Jika seorang guru hanya berbicara di kelas, maka murid yang mendapat manfaat terbatas pada jumlah siswa di kelas itu saja. Tetapi dengan menulis di blog, manfaat bisa menjangkau ratusan, ribuan, bahkan jutaan pembaca.

Banyak orang sering ragu untuk memulai menulis di blog. Alasan yang paling sering muncul adalah takut tulisan dianggap jelek atau khawatir tidak ada yang membaca. Namun, menurut Pak Dedi, hal itu tidak perlu menjadi penghalang.

“Yang penting mulai saja dulu. Jangan terlalu banyak mikir, jangan menunggu sempurna,” ujarnya.

Beliau memberikan beberapa tips sederhana agar kita bisa mulai menulis di blog tanpa terbebani:

1)    Tulislah apa saja yang terlintas dalam pikiran.

2)    Jangan takut tulisan dianggap jelek. Semua penulis besar pun berawal dari tulisan sederhana.

3)    Dokumentasikan kegiatan sehari-hari, sekecil apa pun itu. Suatu saat catatan itu bisa sangat berarti.

4)    Gunakan bahasa sendiri, tulislah dengan hati yang ikhlas dan gembira.

Pak Dedi juga mengingatkan bahwa media sosial bisa menjadi sumber ide. Apa yang kita tulis di Facebook atau Instagram bisa dipindahkan ke blog. Begitu juga sebaliknya, tulisan di blog bisa dibagikan ulang di media sosial untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Dengan begitu, satu ide bisa berkembang menjadi banyak manfaat.

Satu hal yang paling ditekankan oleh Pak Dedi adalah soal komitmen. Menulis bukan pekerjaan sekali-sekali, tetapi aktivitas yang harus terus dijaga.

Ada beberapa langkah yang beliau sarankan untuk menjaga komitmen menulis di blog:

1.     Tentukan tujuan menulis. Apakah untuk berbagi ilmu, mendokumentasikan perjalanan, atau sekadar melatih keterampilan menulis.

2.     Buat jadwal rutin. Tidak harus setiap hari, bisa seminggu sekali, dua kali, atau minimal sebulan sekali. Yang penting konsisten.

3.     Atasi writer’s block dengan membaca. Jika ide terasa buntu, berhentilah sejenak. Membaca buku, artikel, atau berita bisa menjadi bahan bakar baru.

4.     Fokus pada topik tertentu. Jangan menunggu ide besar. Tulis apa saja yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Beliau juga menambahkan, jangan pernah menghapus tulisan lama di blog. Biarkan tetap ada, meskipun kita merasa tulisan itu sudah ketinggalan zaman atau kurang bagus. Tulisan lama adalah jejak perjalanan yang bisa menunjukkan bagaimana kita berkembang.

Dengan begitu, pembaca bisa melihat proses pertumbuhan ide, sekaligus menyaksikan kualitas tulisan kita yang semakin baik dari waktu ke waktu.

Lebih dari sekadar media menulis, blog juga bisa menjadi arsip kehidupan. Di sana, kita bisa menyimpan dokumentasi berupa tulisan, foto, video, atau sertifikat kegiatan. Semuanya tersimpan rapi dan bisa diakses kapan saja.

Pak Dedi mencontohkan, seorang guru bisa menuliskan pengalaman mengajar, mencatat refleksi dari kegiatan pelatihan, atau bahkan menulis ulang berita yang sedang berkembang dengan gaya bahasanya sendiri. Dari situ, blog bisa berfungsi sebagai portofolio digital yang memperlihatkan perjalanan karier seseorang.

Tentu saja, menulis di blog memiliki risiko. Ada kemungkinan tulisan kita menuai kritik atau tidak disukai orang lain. Namun, risiko itu adalah bagian dari proses belajar. Yang penting, niat menulis tetap dijaga agar apa yang kita hasilkan membawa kebaikan.

Di akhir sesi, Pak Dedi menyampaikan pesan yang sangat menyentuh hati:

👉 “Menulis itu soal niat baik. Bisa jadi, apa yang kita tulis kelak menjadi amal jariyah.”

Kalimat itu sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Tulisan yang kita buat hari ini mungkin terlihat biasa saja. Namun, siapa tahu suatu saat ada orang yang menemukan tulisan itu, lalu mendapatkan manfaat darinya. Dan manfaat itu akan terus mengalir, meskipun penulisnya sudah tiada.

Pesan itu menjadi pengingat bahwa menulis bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk memberi arti bagi orang lain. Dengan menulis, kita meninggalkan warisan pengetahuan, pengalaman, dan inspirasi yang tak akan pernah hilang.

Sesi malam keenam KBMN PGRI bersama Bapak Dedi Dwitagama bukan hanya membuka wawasan peserta tentang pentingnya menulis, tetapi juga memberikan motivasi kuat untuk berkomitmen menulis di blog.

Blog bukan sekadar media, tetapi ruang untuk menebar manfaat. Komitmen menulis adalah kunci, dan niat baik adalah fondasinya.

Maka, jangan pernah berhenti menulis. Mulailah dari hal kecil, dokumentasikan perjalanan hidup, dan biarkan tulisan kita menjadi jejak yang bermanfaat bagi banyak orang. Siapa tahu, tulisan sederhana hari ini bisa menjadi amal jariyah yang terus hidup di masa depan.

1 komentar: