Aku Anak Desa
Aku lahir di sebuah Desa kecil yang jauh dari sorotan media dan
gegap gempita kota. Desa yang tak tercantum dalam buku wisata, namun menjadi
tempat pertama aku mengenal kehidupan tempat
pertama aku mengenal mimpi.
Namaku Dede Awaludin, anak dari
seorang petani dan penjahit pakaian wanita. Ayahku mengandalkan cangkul dan
keringat untuk menghidupi keluarga kami. Setiap pagi, sebelum matahari sempurna
muncul, ia telah berdiri di pematang sawah dengan semangat yang tak pernah
padam. Ibu, dengan penuh kesabaran, duduk di depan mesin jahitnya dari pagi hingga
malam, menjahit pakaian demi pakaian untuk perempuan-perempuan Desa, tak jarang sambil terkantuk karena
lelah.
Kami hidup sederhana, sangat sederhana. Tak ada mobil, tak ada liburan ke
kota, bahkan untuk membeli buku bacaan pun harus menabung berminggu-minggu.
Tapi dari rumah kecil itu, aku belajar banyak hal yang tak diajarkan di sekolah: ketulusan,
kerja keras, kesabaran, dan harapan.
Aku tumbuh menjadi anak desa yang pemalu, tapi punya satu keinginan
besar yang diam-diam kujaga erat: aku ingin menjadi penulis.
Mungkin terdengar lucu bagi sebagian orang. Apa yang bisa ditulis oleh anak
kampung yang hidup jauh dari kota, tanpa akses internet yang stabil dan tanpa
buku bacaan lengkap?
Tapi justru dari keterbatasan itu aku belajar
memaknai setiap hal kecil. Bagiku, cerita tidak harus lahir dari tempat mewah.
Cerita terbaik justru tumbuh dari kehidupan sehari-hari dari tetesan keringat ayah, dari benang-benang yang dijahit ibu,
dari obrolan tetangga di warung kopi, dari hujan sore yang jatuh di atap rumah
kami.
Aku mulai menulis sejak Sekolah Dasar. Awalnya, hanya coretan-coretan acak di balik buku pelajaran.
Kadang aku menulis tentang mimpi, kadang tentang keresahan, kadang tentang
kebahagiaan sederhana seperti bermain di sawah atau memakan tempe goreng buatan
ibu. Kata demi kata kutulis, meski banyak salah ejaan dan kalimat tak runtut.
Tapi aku tak peduli. Aku terus menulis, karena menulis membuatku merasa hidup, ketika aku sudah menikah sang istri pun
melihat tulisan biagrafi aku dia hanya seyum imut-imut.
Tak banyak yang tahu cita-citaku. Aku
menyimpannya rapat-rapat, seperti rahasia kecil yang hanya kupeluk sendiri.
Namun setiap kali aku melihat ayah pulang dengan lumpur di kaki dan senyum di
wajah, atau melihat ibu menyerahkan hasil jahitannya dengan rasa bangga, aku
merasa harus terus berjuang. Aku ingin suatu hari mereka membaca tulisanku, dan
tahu bahwa setiap jerih payah mereka tak pernah sia-sia.
Aku bukan siapa-siapa. Hanya anak desa biasa.
Tapi aku percaya, dari Desa
pun bisa lahir suara. Dari tanah yang tenang ini, aku ingin menyampaikan
kisah-kisah kecil yang mungkin tak dianggap penting, tapi menyimpan makna yang
dalam. Kisah tentang kehidupan yang jujur, cinta yang sederhana, dan impian
yang tetap menyala meski hidup kadang terasa redup.
Dan itulah aku. Anak Desa yang ingin menulis.
Anak Desa yang percaya, bahwa
satu kalimat bisa mengubah dunia. Bahwa dari balik rumah bambu, dari suara
jangkrik malam, dan dari peluh ayah-ibu, akan lahir cerita-cerita yang pantas
dibaca Dunia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar