Surat untuk Diriku yang Pernah
Hampir Menyerah
Aku
menulis surat ini bukan untuk orang lain.
Bukan untuk redaksi media yang tak pernah membalas tulisanku.
Bukan untuk pembaca yang entah akan membaca atau tidak.
Surat ini, kutulis untuk diriku sendiriyang pernah hampir menyerah.
Masih
kuingat betul, malam-malam panjang ketika lampu meja menyala sendirian,
menyoroti wajahku yang mulai lelah. Kertas berserakan di lantai, cangkir kopi
yang tadinya penuh kini hanya menyisakan pahit di dasar gelas, dan jemariku
terus mengetik tanpa henti. Ada rasa puas setiap kali titik terakhir
kutuliskan, seperti menyelesaikan sebuah perjalanan jauh.
Lalu,
dengan penuh harap, kukirimkan naskah itu ke alamat email media.
Mengklik tombol “Send” selalu menjadi momen deg-degan, seakan aku mengirimkan
sepotong hatiku untuk dihakimi. Aku membayangkan seseorang di balik meja
redaksi akan tersenyum saat membaca tulisanku, lalu mengirimkan balasan: “Kami
akan memuatnya di edisi berikutnya.”
Tapi
minggu demi minggu, bulan demi bulan, yang datang hanya hening.
Tidak ada balasan. Tidak ada tanda. Hanya keheningan yang menyelusup ke dada,
memelukku dengan dingin.
Rasa
percaya diriku mulai retak. Aku mulai berpikir: Mungkin tulisanku terlalu
buruk. Atau mungkin, memang tidak ada yang butuh membaca apa yang
kutulis.
Hari-hari berikutnya, aku jarang
membuka laptop.
Buku catatan yang dulu penuh coretan ide kini hanya tergeletak di sudut meja.
Bahkan, saat hujan turun deras di suatu sore, aku menulis kalimat itu di
kepalaku sendiri: “Mungkin aku memang bukan penulis.”
Sampai
suatu hari, saat merapikan laci, aku menemukan sebuah map lusuh berisi
naskah-naskah lama. Di antara tumpukan kertas itu, ada satu cerita pendek yang
pernah kubaca ketika SMA tentang seorang anak kecil yang setiap sore
menerbangkan pesawat kertas berisi doa, meski hujan selalu merobeknya di udara.
Aku
membaca ulang cerita itu, dan tanpa sadar mataku basah.
Bukan karena tulisannya bagus sejujurnya, bahasanya masih mentah dan penuh
salah ejaan. Tapi karena aku bisa melihat diriku di dalamnya. Anak kecil itu
tak pernah berhenti menerbangkan pesawat kertasnya, meski ia tahu banyak yang
akan jatuh sebelum sampai tujuan.
Hari
itu aku mengerti satu hal: tujuan menulis mungkin bukan hanya agar dimuat di
media. Tujuan menulis adalah menjaga nyala di dalam dada agar tidak padam,
meski Dunia di luar hening.
Sejak
itu, aku mulai menulis lagi. Tidak lagi menunggu balasan. Tidak lagi mengukur
nilai tulisanku dari email yang tak kunjung datang. Aku menulis karena aku
perlu menulis. Karena kata-kata adalah rumahku, dan aku adalah penghuninya.
Maka,
kepada diriku yang pernah hampir menyerah, izinkan aku berbisik:
Teruslah menulis. Biarkan kata-kata menjadi temanmu, meski tak ada yang
membalas. Sebab, suatu hari nanti, akan ada satu orang bahkan mungkin hanya
satu yang membaca tulisanku dan merasa hidupku berubah. Dan orang itu, bisa
jadi… adalah dirimu sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar