Beberapa hari terakhir, hampir
setiap kali membuka media sosial, mata DA ( Dede Awaludin) selalu disuguhi
foto-foto menakjubkan. Ada teman-teman yang tiba-tiba tampil bak putri kerajaan,
ada juga tetangga yang bergaya seperti model majalah. Semua foto itu
ternyata bukan hasil jepretan kamera, melainkan buatan AI Gemini.
Awalnya aku DA hanya tersenyum melihat tren itu. “Ah, paling cuma ikut-ikutan,” pikirku.
Tapi lama-lama aku penasaran juga. Bagaimana mungkin hanya dengan menuliskan
deskripsi singkat, seseorang bisa punya potret baru yang seolah nyata?
Akhirnya
malam itu, aku mencoba sendiri. Dengan rasa iseng,
Aku DA mengetik: "Pasangan
suami istri sedang berfoto selfie di depan Ka'bah, memakai pakaian ihram,
suasana ramai jemaah haji."
Tak lama kemudian, layar
ponselku menampilkan gambar aku dan Istruku dengan hasil yang begitu indah. Sekilas, aku merasa itu benar-benar diriku padahal aku tak pernah punya gaun seperti itu.
Keesokan
harinya, aku DA mengunggah foto itu ke akun media sosialnya. Dalam hitungan menit,
banjir komentar datang. Ada yang kagum, ada yang tak percaya, ada juga yang
heran kenapa DA terlihat berbeda.
Sejak
saat itu, Aku menyadari bahwa foto AI bukan hanya soal seni atau hiburan. Ada
rasa takjub, tapi juga muncul pertanyaan dalam hati:
“Kalau semua orang bisa
membuat versi terbaik dirinya dengan mudah, bagaimana kita bisa tahu mana yang
nyata dan mana yang hanya buatan mesin?”
Aku DA
menggambil kesimpulan Fenomena foto AI Gemini ini menunjukkan kepada kita semua
bahwa Dunia digital bergerak jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan. Teknologi
hadir dengan wajah ganda, Semua kembali pada pilihan kita.
Apakah kita akan membiarkan AI hanya menjadi tren sesaat
yang memicu sensasi?
Ataukah
kita bisa menjadikannya alat bantu untuk menumbuhkan kreativitas, membangun
karya, dan mengembangkan dunia Pendidikan?
Jawaban
itu ada di tangan kita semua, para penggunanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar