Total Tayangan Halaman

Jumat, 05 September 2025

Ditolak, Diremehkan, Tapi Tetap Menulis



Ditolak, Diremehkan, Tapi Tetap Menulis

Setiap penulis, siapa pun dia, pasti pernah merasakan pahitnya penolakan. Namun ketika aku mengalaminya, rasanya jauh lebih berat dari sekadar kata "ditolak". Bukan hanya karena naskahku tidak diterima, tapi karena aku menulis dari sudut desa yang terpencil, dengan segala keterbatasan yang menyertainya. Sinyal sering tak menentu, ponsel pun harus bergantian dengan istriku, dan waktu menulis harus kucuri di antara kesibukan harian yang tak bisa ditunda.

Tulisan pertamaku kukirim ke sebuah media daring dengan harapan besar, disertai degup jantung yang tak karuan. Tapi balasan yang kuterima hanyalah kesunyian—tak ada kabar, tak ada alasan, hanya senyap yang perlahan menjelma menjadi luka. Lama aku terdiam. Aku merenung: mungkin benar, apa yang dikatakan orang-orang itu ada benarnya. “Menulis itu bukan jalan hidup anak kampung sepertimu.”

Beberapa teman dekat, dengan wajah berseri namun nada sinis, sering melontarkan candaan yang tak sepenuhnya terasa lucu.
“Mau jadi penulis? Nulis apa? Cerita tentang lumpur dan cangkul?”
“Udahlah, nulis nggak bikin kenyang. Mending ikut bantu tanam padi.”

Kalimat-kalimat itu sempat mengguncang keyakinanku. Ada getir yang tak bisa kusembunyikan. Tapi dari luka itu, perlahan tumbuh benih keberanian. Justru dari rasa sakit itulah aku menemukan alasan untuk terus menulis. Aku tahu, mereka bukan orang jahat. Mereka hanya belum paham bahwa tulisan bisa menjadi jembatan antara desa dan dunia. Mereka belum tahu bahwa kisah sederhana tentang petani seperti ayahku, atau ibu yang menjahit hingga larut malam, memiliki keindahan dan nilai yang layak dibagikan kepada dunia.

Setiap kali aku menerima penolakan, aku tidak langsung menyerah. Tulisan itu tak langsung kuhapus. Aku baca ulang, kubedah, kutemukan kelemahan-kelemahannya, dan kucoba lagi. Kubiarkan waktu menjadi guru, dan kegigihan menjadi penuntunku. Ada tulisan yang akhirnya dimuat, ada pula yang kembali ditolak. Tapi aku belajar dari semua itu. Aku belajar rendah hati, belajar membaca ulang dengan mata yang lebih jernih, dan belajar bahwa menulis bukan soal pengakuan semata—melainkan tentang kejujuran, ketekunan, dan keberanian mengekspresikan suara yang sering tak terdengar.

Aku pun mulai bergabung dengan komunitas menulis, meski hanya bisa lewat dunia maya. Di sana aku bertemu banyak orang yang ternyata memiliki kisah yang tak jauh berbeda. Ada yang menulis dari pelosok Sumatera, ada yang menulis dari pegunungan Papua, bahkan ada yang menulis dengan satu tangan karena keterbatasan fisik. Kami saling menyemangati, saling mengoreksi, saling membuka peluang. Dari situ aku tahu, aku tidak sendiri. Aku bagian dari perjuangan besar bernama literasi.

Memang, jalan yang kupilih ini bukan jalan yang mulus. Ejekan datang dari mulut yang bahkan tak pernah membaca satu kalimat pun dariku. Keraguan sering muncul dari wajah orang-orang yang sebenarnya kusayangi. Dan rasa lelah itu… ah, ia datang hampir setiap hari ketika aku harus memilih antara menulis atau beristirahat setelah seharian di sekolah mengajar, dan membantu keluarga.

Tapi setiap kali langkahku terasa berat, aku selalu kembali pada niat awal: aku menulis bukan untuk disukai semua orang. Aku menulis bukan untuk tepuk tangan atau sorak sorai. Aku menulis karena aku yakin, kisah dari tempat kecil seperti desaku juga pantas disuarakan. Suara-suara yang selama ini terpinggirkan tentang petani yang bekerja di bawah terik matahari, tentang ibu-ibu yang menanak nasi dengan bara kayu, tentang anak-anak yang belajar di ruang kelas sederhana—semua itu harus punya ruang. Jika aku tidak menuliskannya, mungkin tidak ada yang akan melakukannya.

Mungkin aku tak secepat mereka yang punya laptop canggih, jaringan internet tanpa putus, atau ruang kerja sunyi penuh buku. Mungkin langkahku tertatih, sering tersandung, bahkan kadang harus berhenti sejenak. Tapi aku punya hati yang tak pernah lelah bermimpi. Aku punya semangat yang tak ingin padam, meski kadang hanya menyala kecil di tengah gelap. Dan justru dari ketulusan itulah kekuatanku berasal kekuatan yang membuatku tetap bertahan, menolak kalah, menolak diam.

Karena menulis bukan hanya soal tinta dan kertas. Menulis bukan sekadar mengisi halaman kosong dengan kata-kata indah. Menulis, bagiku, adalah perlawanan. Perlawanan terhadap bisu, terhadap lupa, terhadap anggapan bahwa suara orang kecil tidak penting. Menulis adalah perjuangan untuk mengatakan:

“Aku ada. Aku punya suara. Dan suaraku layak didengar.”

Dan ketika kata-kata itu kutuliskan, aku merasa seolah sedang berdiri tegak di tengah keramaian, meski mungkin hanya sedikit orang yang menoleh. Tapi aku tahu, selama ada satu hati yang disentuh oleh tulisanku, maka aku tidak menulis sia-sia.

Karena sesungguhnya, setiap orang punya cerita. Setiap orang menyimpan kisah yang layak dituliskan—meski sederhana, meski kecil, meski hanya untuk diri sendiri. Maka jika kau merasa tak berarti, cobalah menulis. Tuliskan keresahanmu, ceritakan bahagiamu, abadikan jejak langkahmu. Siapa tahu, kata-katamu kelak menjadi lentera bagi orang lain yang sedang berjalan dalam gelap.

Dan di situlah, kita akan sama-sama mengerti: menulis bukan sekadar pekerjaan, melainkan cara kita meninggalkan jejak bahwa kita pernah ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar