Ditolak, Diremehkan, Tapi Tetap
Menulis
Setiap
penulis, siapa pun dia, pasti pernah merasakan pahitnya penolakan. Namun ketika
aku mengalaminya, rasanya jauh lebih berat dari sekadar kata
"ditolak". Bukan hanya karena naskahku tidak diterima, tapi karena
aku menulis dari sudut desa yang terpencil, dengan segala keterbatasan yang
menyertainya. Sinyal sering tak menentu, ponsel pun harus bergantian dengan
istriku, dan waktu menulis harus kucuri di antara kesibukan harian yang tak
bisa ditunda.
Tulisan
pertamaku kukirim ke sebuah media daring dengan harapan besar, disertai degup
jantung yang tak karuan. Tapi balasan yang kuterima hanyalah kesunyian—tak ada
kabar, tak ada alasan, hanya senyap yang perlahan menjelma menjadi luka. Lama
aku terdiam. Aku merenung: mungkin benar, apa yang dikatakan orang-orang itu
ada benarnya. “Menulis itu bukan jalan hidup anak kampung sepertimu.”
Beberapa
teman dekat, dengan wajah berseri namun nada sinis, sering melontarkan candaan
yang tak sepenuhnya terasa lucu.
“Mau jadi penulis? Nulis apa? Cerita tentang lumpur dan cangkul?”
“Udahlah, nulis nggak bikin kenyang. Mending ikut bantu tanam padi.”
Kalimat-kalimat
itu sempat mengguncang keyakinanku. Ada getir yang tak bisa kusembunyikan. Tapi
dari luka itu, perlahan tumbuh benih keberanian. Justru dari rasa sakit itulah
aku menemukan alasan untuk terus menulis. Aku tahu, mereka bukan orang jahat.
Mereka hanya belum paham bahwa tulisan bisa menjadi jembatan antara desa dan
dunia. Mereka belum tahu bahwa kisah sederhana tentang petani seperti ayahku,
atau ibu yang menjahit hingga larut malam, memiliki keindahan dan nilai yang
layak dibagikan kepada dunia.
Setiap
kali aku menerima penolakan, aku tidak langsung menyerah. Tulisan itu tak
langsung kuhapus. Aku baca ulang, kubedah, kutemukan kelemahan-kelemahannya,
dan kucoba lagi. Kubiarkan waktu menjadi guru, dan kegigihan menjadi
penuntunku. Ada tulisan yang akhirnya dimuat, ada pula yang kembali ditolak.
Tapi aku belajar dari semua itu. Aku belajar rendah hati, belajar membaca ulang
dengan mata yang lebih jernih, dan belajar bahwa menulis bukan soal pengakuan
semata—melainkan tentang kejujuran, ketekunan, dan keberanian mengekspresikan
suara yang sering tak terdengar.
Aku
pun mulai bergabung dengan komunitas menulis, meski hanya bisa lewat dunia
maya. Di sana aku bertemu banyak orang yang ternyata memiliki kisah yang tak
jauh berbeda. Ada yang menulis dari pelosok Sumatera, ada yang menulis dari
pegunungan Papua, bahkan ada yang menulis dengan satu tangan karena
keterbatasan fisik. Kami saling menyemangati, saling mengoreksi, saling membuka
peluang. Dari situ aku tahu, aku tidak sendiri. Aku bagian dari perjuangan
besar bernama literasi.
Memang,
jalan yang kupilih ini bukan jalan yang mulus. Ejekan datang dari mulut yang
bahkan tak pernah membaca satu kalimat pun dariku. Keraguan sering muncul dari
wajah orang-orang yang sebenarnya kusayangi. Dan rasa lelah itu… ah, ia datang
hampir setiap hari ketika aku harus memilih antara menulis atau beristirahat
setelah seharian di sekolah mengajar, dan membantu keluarga.
Tapi
setiap kali langkahku terasa berat, aku selalu kembali pada niat awal: aku
menulis bukan untuk disukai semua orang. Aku menulis bukan untuk tepuk tangan
atau sorak sorai. Aku menulis karena aku yakin, kisah dari tempat kecil seperti
desaku juga pantas disuarakan. Suara-suara yang selama ini terpinggirkan tentang
petani yang bekerja di bawah terik matahari, tentang ibu-ibu yang menanak nasi
dengan bara kayu, tentang anak-anak yang belajar di ruang kelas sederhana—semua
itu harus punya ruang. Jika aku tidak menuliskannya, mungkin tidak ada yang
akan melakukannya.
Mungkin
aku tak secepat mereka yang punya laptop canggih, jaringan internet tanpa
putus, atau ruang kerja sunyi penuh buku. Mungkin langkahku tertatih, sering
tersandung, bahkan kadang harus berhenti sejenak. Tapi aku punya hati yang tak
pernah lelah bermimpi. Aku punya semangat yang tak ingin padam, meski kadang
hanya menyala kecil di tengah gelap. Dan justru dari ketulusan itulah
kekuatanku berasal kekuatan yang membuatku tetap bertahan, menolak kalah,
menolak diam.
Karena
menulis bukan hanya soal tinta dan kertas. Menulis bukan sekadar mengisi
halaman kosong dengan kata-kata indah. Menulis, bagiku, adalah perlawanan.
Perlawanan terhadap bisu, terhadap lupa, terhadap anggapan bahwa suara orang
kecil tidak penting. Menulis adalah perjuangan untuk mengatakan:
“Aku ada. Aku punya suara. Dan
suaraku layak didengar.”
Dan
ketika kata-kata itu kutuliskan, aku merasa seolah sedang berdiri tegak di
tengah keramaian, meski mungkin hanya sedikit orang yang menoleh. Tapi aku
tahu, selama ada satu hati yang disentuh oleh tulisanku, maka aku tidak menulis
sia-sia.
Karena
sesungguhnya, setiap orang punya cerita. Setiap orang menyimpan kisah yang
layak dituliskan—meski sederhana, meski kecil, meski hanya untuk diri sendiri.
Maka jika kau merasa tak berarti, cobalah menulis. Tuliskan keresahanmu,
ceritakan bahagiamu, abadikan jejak langkahmu. Siapa tahu, kata-katamu kelak
menjadi lentera bagi orang lain yang sedang berjalan dalam gelap.
Dan
di situlah, kita akan sama-sama mengerti: menulis bukan sekadar pekerjaan,
melainkan cara kita meninggalkan jejak bahwa kita pernah ada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar