Total Tayangan Halaman

Jumat, 05 September 2025

Saat Mimpiku Menyala

 


Saat Mimpiku Menyala

Aku masih ingat malam itu. Langit sedang kelabu, hujan mengguyur perlahan seperti mengantar rintik-rintik doa dari bumi ke langit. Listrik padam sebentar-sebentar, membuat rumah kecil kami diselimuti cahaya temaram dari lampu emergency mungil yang nyaris kehabisan daya. Suasana sunyi, sepi, nyaris seperti tak ada harapan yang tersisa kecuali dari satu benda: ponselku, yang baterainya tinggal beberapa persen.

Tiba-tiba, satu notifikasi masuk. Getarnya pelan, tapi efeknya mengguncang seluruh jiwaku.

“Selamat, tulisan Anda telah kami muat di rubrik Melintas minggu ini.”

Aku terpaku. Tak percaya. Kubaca berulang kali, memastikan aku tak sedang berhalusinasi karena kelelahan. Tapi tidak, itu nyata. Nama kecilku terpampang jelas di bawah tulisan itu. Tulisan yang kutulis dari kamar sempit, di sela tugas rumah tangga, dengan tangan gemetar dan hati penuh harap akhirnya tembus media nasional.

Malam itu, aku menangis. Tapi bukan karena merasa hebat. Air mata itu tumpah sebagai luapan syukur dan pembuktian. Bahwa perjuangan dalam diam, doa-doa yang dipanjatkan tanpa suara, dan rasa sakit karena penolakan bertubi-tubi… semuanya bukan sia-sia. Malam-malam yang kulewati ditemani kopi dingin dan lampu belajar bekas, akhirnya dibalas oleh satu kata yang selama ini kucari: dihargai.

Keesokan paginya, dengan jantung berdebar, aku menunjukkan tulisanku pada istri dan anak-anak. Mereka membaca pelan, seolah tak ingin melewatkan satu kata pun. Mata istriku berkaca-kaca. Ia menatapku penuh bangga, lalu memelukku dan berkata lirih, “Tulisanmu indah, Yah… seperti hidup kita sendiri.”

Sejak saat itu, mimpi yang semula samar mulai menyala lebih terang. Menulis bukan lagi sekadar cita-cita masa kecil yang pernah kutulis di halaman belakang buku pelajaran. Ia tumbuh menjadi panggilan—suatu titipan dari Tuhan agar aku bisa menyuarakan denyut nadi kehidupan dari desa kecilku kepada dunia yang lebih luas.

Setelah tulisan pertamaku dimuat, aku tak ingin berhenti. Justru itu menjadi titik tolak untuk menulis lebih giat. Aku mulai merawat kisah-kisah sederhana yang dulu kupikir tak penting. Tentang motor tua yang setia menemaniku ke sekolah, tentang ratapan di persimpangan hidup, tentang jejak-jejak pagi di balik papan tulis—semua kutulis apa adanya, jujur, tanpa rekayasa.

Dan anehnya, justru tulisan-tulisan sederhana itu yang paling menyentuh pembaca. Pesan-pesan mulai berdatangan. Ada yang bilang, “Tulisanmu mengingatkanku pada aroma sawah masa kecil.” Ada yang menulis, “Terima kasih, karena kau telah menyuarakan kehidupan kami yang sering luput dari sorotan.” Bahkan, seorang guru dari kota meminta izin menjadikan tulisanku sebagai bahan ajar untuk murid-muridnya.

Aku terharu. Tak pernah terbayang bahwa kata-kata yang kutulis dari sudut kecil rumah bisa mengalir sejauh itu, menyentuh jiwa-jiwa yang bahkan tak kukenal. Rasanya seperti aku menemukan panggilan hidupku—bukan sebagai selebritas pena, tapi sebagai penyampai suara dari sudut desa yang tak pernah dimuat di peta besar media.

Dari satu tulisan yang dimuat, tumbuh semangat untuk terus menulis. Kini, aku tak malu lagi menyebut diriku anak desa yang bercita-cita menjadi penulis. Justru aku bangga. Karena desa bukan simbol kekurangan, tapi gudang kekayaan jiwa. Dari tanah yang sederhana, tumbuh cerita-cerita yang tulus dan sarat makna.

Kini, mimpiku tak lagi redup. Ia menyala seperti nyala api kecil yang bertahan meski diterpa angin, tak padam walau diterjang hujan. Kadang nyalanya meredup, hampir mati, namun selalu kembali berkobar, seakan dihembuskan oleh harapan yang tak pernah benar-benar hilang. Aku tahu, selama ada kehidupan, selama masih ada satu orang saja yang bisa tersentuh oleh tulisanku entah ia pembaca jauh di kota, anak muda yang sedang kehilangan arah, atau bahkan diriku sendiri di masa depan maka tugasku belum selesai.

Aku telah berjanji pada diriku sendiri:
Aku akan terus menulis.
Bukan demi ketenaran,
tapi demi kebenaran.

Bukan untuk kemewahan,
tapi untuk makna.

Karena aku percaya, setiap kata yang lahir dari ketulusan akan menemukan jalannya. Mungkin butuh waktu lama, mungkin harus menempuh jalan yang berliku, tapi ia akan sampai pada hati yang tepat. Dan bila suatu hari aku tiada, aku ingin anak-anakku, murid-muridku, atau siapa pun yang membaca tulisanku bisa merasakan bahwa ada seorang anak desa yang pernah berjuang dengan pena, bukan pedang; dengan kata, bukan kuasa.

Menulis, bagiku, adalah cara merawat ingatan. Menulis adalah cara kecilku untuk melawan lupa. Aku menulis agar cerita tentang sawah yang menghijau, peluh ayah yang tak pernah mengeluh, dan tangan ibu yang terampil menjahit bisa tetap hidup dalam barisan kata. Agar dunia tahu, bahwa kehidupan sederhana di sudut desa juga punya keindahan, punya arti, dan punya suara yang layak didengar.

Dan jika kelak dunia masih memilih bungkam terhadap tulisanku, aku tidak akan gentar. Sebab aku menulis bukan untuk pujian. Aku menulis untuk menyampaikan pesan yang mungkin tak sempat terucap. Aku menulis untuk meneguhkan bahwa aku pernah ada, pernah hidup, dan pernah mencintai dunia dengan caraku sendiri: lewat kata.

Maka biarlah mimpi ini terus menyala, meski kecil, meski sederhana. Sebab dari nyala kecil itulah, mungkin suatu hari akan lahir api yang mampu menghangatkan banyak jiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar