Sore ini, menjelang magrib di grup WhatsApp KBMN, Omjay mengirimkan sebuah gambar sepiring nasi dan lauk paukanya yang begitu terlihat sederhana.
Namun, dari gambar sederhana itulah saya mendapat tantangan dari omjay: “coba buat karya dari gambar ini!”
Awalnya saya tersenyum. Bagi sebagian orang, gambar itu mungkin hanya lewat begitu saja tanpa makna. Tetapi bagi seorang penulis, setiap gambar adalah pintu masuk menuju cerita.
Saya pandangi gambar itu lebih lama. Ternyata, ada banyak kisah yang bisa dituturkan. Warna, cahaya, dan benda-benda kecil di dalamnya seakan berbisik, meminta untuk dituliskan. Saya lalu mengambil pena, membuka laptop, dan mulai merangkai kata.
Dari sebuah gambar sederhana, lahirlah sebuah tulisan. Dari sebuah tantangan, tumbuhlah sebuah karya.
Inilah yang saya sukai dari kebersamaan di KBMN. Kita saling menantang, saling menyemangati, dan saling mengingatkan bahwa menulis itu tidak harus menunggu inspirasi besar. Kadang, inspirasi bisa lahir dari hal-hal kecil yang hadir di sekitar kita bahkan dari sebuah gambar yang tiba-tiba muncul di layar gawai.
Dari gambar tersebut menggambarkan kehidup sederhana bukanlah pilihan bagi sebagian orang, melainkan keadaan yang harus dijalani. Meja makan di rumah sering kali menjadi cermin dari kondisi itu. Ketika penghasilan kecil, maka yang tersaji pun sederhana. Tidak ada lauk pauk beraneka ragam, tidak ada daging setiap hari, apalagi makanan cepat saji yang mahal. Yang ada hanyalah nasi hangat, sepotong tahu, tempe goreng, sedikit sayur tumis kangkung atau kacang panjang, dan sambal yang pedasnya mampu membuat makan terasa nikmat.
Bagi sebagian orang, itu mungkin tampak biasa saja, bahkan terlalu sederhana. Namun bagi keluarga yang mengalaminya, itulah keseharian yang penuh makna. Duduk bersama di meja makan, meski hanya dengan lauk pas-pasan, tetap menjadi momen yang istimewa. Ada rasa syukur yang tumbuh karena masih bisa menikmati makanan, meski tidak berlebihan.
Di balik sepiring nasi dengan lauk sederhana, ada kisah yang jarang terlihat. Ibu yang setiap pagi berangkat ke pasar dengan uang seadanya, menghitung-hitung harga sayuran agar bisa cukup untuk beberapa hari. Ayah yang pulang kerja dengan baju penuh keringat, tetap berusaha tersenyum agar anak-anaknya tidak tahu betapa lelahnya mencari nafkah dengan penghasilan kecil. Anak-anak yang terkadang mengeluh ingin makan ayam goreng atau membeli makanan di luar, tetapi akhirnya diam ketika melihat wajah orang tuanya yang berusaha keras menutupi keterbatasan.
Ada kalanya rasa ingin menyerah itu datang. Ada perasaan ingin marah pada keadaan, kenapa harus hidup dengan segala keterbatasan. Namun di meja makan sederhana itulah, hati kembali belajar. Belajar untuk ikhlas, belajar untuk sabar, dan belajar untuk tetap bersyukur. Karena ternyata kebahagiaan bukan hanya tentang makanan mewah, tetapi juga tentang kebersamaan dan cinta yang hadir di antara keluarga.
Tahu dan tempe, yang sering dianggap makanan kelas bawah, sesungguhnya menyimpan nilai yang besar. Dari situlah tubuh tetap bisa berdiri kuat, dari situlah anak-anak tetap bisa tumbuh sehat. Sayur kangkung, bayam, atau kacang panjang yang murah meriah pun tetap memberi vitamin dan serat yang dibutuhkan tubuh. Meski sederhana, mereka tetap menjaga kehidupan.
Kadang kala, di tengah makan, terucap canda kecil yang membuat semua tertawa. “Untung ada sambal, kalau nggak, nasi jadi hambar,” kata si bungsu sambil mencecap pedas. Semua tertawa, suasana makan pun jadi hangat. Dari hal-hal sederhana seperti itulah, keluarga menemukan kebahagiaan kecil yang mungkin tidak bisa dibeli dengan uang.
Kesederhanaan di meja makan sebenarnya adalah guru kehidupan. Ia mengajarkan arti mensyukuri apa yang ada, tidak mengeluh pada apa yang hilang. Ia membentuk hati yang lebih tegar, menguatkan hubungan antaranggota keluarga, sekaligus menumbuhkan doa yang tak pernah putus. Bahwa suatu hari nanti, dengan kerja keras dan kesabaran, keadaan bisa berubah.
Namun sampai saat itu tiba, tidak ada yang salah dengan makan sederhana. Nasi hangat, tempe goreng, tahu kuning, sayur tumis, dan sambal tetap bisa menjadi penguat semangat. Karena pada akhirnya, bukan isi piring yang menentukan kebahagiaan, melainkan bagaimana kita memaknainya. Kesederhanaan di meja makan bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan. Bukti bahwa meski penghasilan kecil, cinta, kebersamaan, dan rasa syukur tetap bisa membuat hidup terasa cukup.

Luar biasa sebuah foto bisa menjadi karya tulis yang enak dibaca
BalasHapusterimakasih Omjay
BalasHapus