Total Tayangan Halaman

Jumat, 04 September 2026

Sekolah Penggerak sebagai Motor Perubahan Pendidikan Indonesia

 

Ada masa ketika perubahan di sekolah terasa seperti sesuatu yang besar dan sulit dimulai. Perubahan sering kali dibayangkan sebagai program baru, aturan baru, atau berbagai dokumen yang harus disiapkan. Namun, setelah menjalani prosesnya di SDN Cikeusal II, saya justru menemukan bahwa perubahan pendidikan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Perubahan dapat tumbuh dari langkah sederhana yang dilakukan bersama, terus-menerus, dan dengan keyakinan bahwa setiap anak berhak mendapatkan pengalaman belajar yang terbaik.

Tahun 2022 samapai Tahun 2024 menjadi salah satu tahun yang tidak mudah saya lupakan. Pada tahun itu, SDN Cikeusal II mendapatkan kesempatan menjadi bagian dari Program Sekolah Penggerak. Bagi sebagian orang, mungkin hal tersebut hanya terlihat sebagai sebuah program pendidikan. Bagi kami di sekolah, menjadi Sekolah Penggerak adalah sebuah kepercayaan sekaligus tanggung jawab.

Ada rasa bangga, tentu saja. Tetapi di balik rasa bangga itu muncul pertanyaan yang cukup besar dalam diri saya sebagai kepala sekolah. Apakah kami mampu menjalankan amanah ini dengan baik? Apakah guru-guru siap berubah? Apakah perubahan yang kami lakukan benar-benar akan dirasakan oleh murid?

Saya menyadari bahwa menjadi Sekolah Penggerak bukan berarti sekolah kami sudah menjadi sekolah yang paling baik. Justru status tersebut menjadi pengingat bahwa kami harus terus bergerak dan belajar.

Saya masih ingat bagaimana kami mulai memahami berbagai perubahan yang harus dilakukan. Ada istilah-istilah baru yang harus dipahami. Ada pola pembelajaran yang harus disesuaikan. Guru perlu memahami konsep pembelajaran yang lebih berpusat pada murid. Perencanaan pembelajaran harus mulai dilihat bukan hanya dari sisi materi yang akan disampaikan, tetapi juga dari kebutuhan dan karakter anak.

Pada saat itu, saya melihat bahwa tantangan terbesar bukanlah menyusun dokumen. Tantangan yang sesungguhnya adalah mengubah kebiasaan.

Kebiasaan mengajar yang sudah berlangsung bertahun-tahun tentu tidak mudah diubah begitu saja. Guru sudah memiliki pengalaman dan cara masing-masing dalam mengajar. Karena itu, saya tidak ingin perubahan dilakukan dengan cara memerintah atau menyalahkan kebiasaan lama.

Saya memilih untuk mengajak guru berdiskusi.

Kami belajar bersama, berbagi pengalaman, dan membicarakan apa yang terjadi di ruang kelas. Guru diberikan kesempatan untuk menceritakan kesulitan yang mereka hadapi. Ada yang merasa belum terbiasa menggunakan pendekatan baru. Ada yang masih mencari cara agar murid lebih aktif. Ada pula yang merasa perlu belajar lebih banyak tentang teknologi.

Saya melihat bahwa ketika guru diberikan ruang untuk berbicara, mereka merasa dihargai. Dari situlah tumbuh keberanian untuk mencoba.

Saya pun belajar bahwa seorang kepala sekolah tidak cukup hanya memberikan arahan. Kepala sekolah harus berada bersama guru ketika perubahan itu berlangsung.

Saya berusaha menempatkan diri bukan sebagai orang yang paling tahu, tetapi sebagai orang yang juga terus belajar. Kami sama-sama belajar bahwa pendidikan terus berkembang dan tidak ada seorang pun yang boleh berhenti belajar hanya karena merasa sudah lama menjadi guru.

Perubahan kemudian mulai terlihat sedikit demi sedikit.

Pembelajaran di kelas mulai diarahkan agar murid tidak hanya menerima informasi, tetapi ikut terlibat dalam proses menemukan pengetahuan. Murid diberikan kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, bekerja dalam kelompok, melakukan pengamatan, menyampaikan pendapat, dan menghasilkan karya.

Bagi saya, perubahan tersebut sangat berarti.

Saya pernah melihat anak yang sebelumnya lebih banyak diam mulai berani menyampaikan pendapat ketika bekerja dalam kelompok. Ada anak yang tidak terlalu menonjol dalam pembelajaran akademik, tetapi ternyata sangat kreatif ketika diberikan kesempatan membuat sebuah karya. Ada pula murid yang menunjukkan kemampuan memimpin teman-temannya ketika melaksanakan kegiatan bersama.

Dari pengalaman itu saya semakin yakin bahwa setiap anak memiliki keunikan.

Tugas sekolah bukan memaksa semua anak menjadi sama. Tugas sekolah adalah membantu setiap anak menemukan dan mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Karena itu, kami mulai membangun cara pandang bahwa keberhasilan murid tidak hanya diukur dari nilai yang tertulis di rapor. Ada keberanian bertanya, kemampuan bekerja sama, kemandirian, kreativitas, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap orang lain yang juga harus dihargai.

Perubahan tersebut semakin terasa ketika sekolah mulai melaksanakan berbagai kegiatan yang memberikan pengalaman nyata kepada murid.

Melalui projek, misalnya, anak-anak belajar tidak hanya dari buku. Mereka belajar melalui lingkungan dan kehidupan di sekitar mereka. Mereka belajar membagi tugas, bekerja sama, menyelesaikan masalah, dan bertanggung jawab terhadap apa yang mereka kerjakan.

Pada saat itulah saya melihat wajah pendidikan yang berbeda.

Anak-anak terlihat lebih bersemangat ketika mereka diberi kesempatan untuk melakukan sesuatu secara langsung. Mereka tidak hanya bertanya, “Apa jawabannya?” tetapi mulai bertanya, “Bagaimana cara membuatnya?” atau “Mengapa hal itu bisa terjadi?”

Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut menunjukkan adanya perubahan dalam cara anak belajar.

Namun, menjadi Sekolah Penggerak tidak hanya berbicara tentang pembelajaran di dalam kelas. Kami juga menyadari bahwa perubahan harus terlihat dalam budaya sekolah.

Salah satu pengalaman yang paling sederhana tetapi sangat membekas bagi saya adalah tentang kebersihan.

Suatu hari ada seorang murid yang membawa jajanan. Setelah selesai makan, bungkus jajanan tersebut dilempar begitu saja ke halaman, bukan ke tempat sampah. Guru yang melihat kejadian itu langsung mendekati murid tersebut. Guru itu menegurnya dengan cara yang tegas, tetapi tetap mendidik. Tangannya memegang pundak anak tersebut sambil mengingatkan bahwa sampah harus dibuang pada tempatnya.

Peristiwa itu mungkin sangat sederhana. Namun, saya melihat ada nilai pendidikan yang besar di dalamnya.

Guru tidak hanya mengajarkan kebersihan melalui kata-kata. Guru hadir dan memberikan contoh secara langsung.

Pada kesempatan lain, ketika melihat sampah berserakan, seorang guru justru mengambil sampah tersebut terlebih dahulu dan membuangnya ke tempat yang telah disediakan. Murid-murid yang melihat kemudian ikut membersihkan lingkungan.

Tidak ada ceramah panjang.

Tidak ada hukuman.

Hanya sebuah keteladanan sederhana.

Tetapi justru dari situlah saya belajar bahwa pendidikan karakter sering kali lebih kuat melalui contoh daripada melalui nasihat.

Guru adalah sosok yang setiap hari dilihat oleh murid. Apa yang dilakukan guru akan mudah ditiru. Ketika guru datang tepat waktu, murid belajar disiplin. Ketika guru menjaga kebersihan, murid belajar peduli lingkungan. Ketika guru menghargai pendapat orang lain, murid belajar menghargai. Ketika guru mau belajar, murid pun melihat bahwa belajar adalah proses sepanjang hayat.

Inilah salah satu perubahan yang ingin kami tumbuhkan di SDN Cikeusal II: perubahan yang tidak hanya terlihat dalam perangkat pembelajaran, tetapi juga dalam kebiasaan sehari-hari.

Di sisi lain, perkembangan teknologi juga menjadi bagian dari perjalanan perubahan kami.

Saya menyadari bahwa sekolah tidak boleh menutup mata terhadap perkembangan zaman. Anak-anak yang kami didik akan hidup di tengah dunia yang semakin digital. Karena itu, guru juga harus memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi untuk mendukung pembelajaran.

Guru mulai menggunakan berbagai perangkat dan sumber digital untuk membuat pembelajaran lebih menarik. Mereka mencari berbagai referensi, membuat media pembelajaran, dan mencoba berbagai cara agar materi yang disampaikan lebih mudah dipahami murid.

Perkembangan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan kemudian memberikan peluang baru.

Saya melihat guru mulai mengenal AI sebagai alat bantu dalam menyiapkan pembelajaran. AI dapat membantu memberikan ide, menyusun bahan awal, mencari variasi aktivitas, maupun membantu guru mengembangkan media pembelajaran.

Tetapi saya selalu mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat.

Jangan sampai guru menjadi bergantung kepada teknologi. Jangan sampai teknologi menggantikan hubungan manusiawi antara guru dan murid.

Guru tetap harus menjadi sosok yang mengenal muridnya. Guru harus tahu siapa anak yang membutuhkan pendampingan, siapa yang membutuhkan tantangan lebih, siapa yang sedang kehilangan semangat belajar, dan siapa yang sebenarnya memiliki potensi tetapi belum mendapatkan ruang untuk menunjukkannya.

Teknologi dapat membantu pekerjaan guru, tetapi hati dan kepedulian guru tetap tidak dapat digantikan.

Dalam proses perubahan itu, tentu tidak semuanya berjalan mulus.

Ada saat ketika semangat mulai menurun. Ada kegiatan yang tidak berjalan sesuai rencana. Ada guru yang membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi. Ada pula perubahan yang hasilnya belum langsung terlihat.

Di sinilah saya belajar tentang arti kesabaran dalam memimpin sekolah.

Perubahan budaya tidak bisa dipaksakan dalam waktu singkat.

Saya memilih untuk terus mendampingi, mengajak berdiskusi, memberikan apresiasi terhadap kemajuan kecil, dan mengingatkan kembali tujuan utama dari setiap perubahan.

Bagi saya, kepala sekolah bukan hanya pengelola sekolah. Kepala sekolah adalah orang yang harus mampu menjaga api perubahan agar tidak padam.

Jika guru merasa kesulitan, kepala sekolah harus hadir.

Jika guru memiliki gagasan, kepala sekolah harus memberikan ruang.

Jika ada kesalahan, kepala sekolah harus membantu mencari solusi.

Dan jika ada keberhasilan, keberhasilan itu harus dirayakan bersama.

Saya semakin memahami bahwa sekolah yang hebat bukanlah sekolah yang tidak pernah menghadapi masalah. Sekolah yang hebat adalah sekolah yang mau belajar dari masalah.

Menjadi Sekolah Penggerak juga membuat kami semakin memahami pentingnya refleksi.

Setelah melakukan kegiatan, kami belajar bertanya kembali: Apa yang sudah baik? Apa yang belum berhasil? Mengapa belum berhasil? Apa yang harus diperbaiki? Dan yang paling penting, apakah perubahan yang kami lakukan benar-benar memberikan dampak kepada murid?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi bagian penting dalam perjalanan kami.

Sebab, pendidikan tidak boleh hanya sibuk dengan kegiatan. Jangan sampai sekolah memiliki banyak program, tetapi lupa bertanya apakah program tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi anak.

Pada akhirnya, semua yang dilakukan sekolah harus kembali kepada murid.

Murid adalah alasan mengapa sekolah harus terus bergerak.

Murid adalah alasan mengapa guru harus terus belajar.

Murid adalah alasan mengapa kepala sekolah tidak boleh berhenti mencari cara untuk memperbaiki sekolah.

Pengalaman SDN Cikeusal II sebagai Sekolah Penggerak sejak tahun 2022 memberikan perubahan yang bukan hanya terlihat pada kegiatan sekolah, tetapi juga pada cara kami memandang pendidikan.

Kami belajar bahwa perubahan bukan pekerjaan satu orang. Perubahan membutuhkan kebersamaan.

Guru tidak dapat bekerja sendirian. Kepala sekolah tidak dapat bergerak sendirian. Sekolah juga tidak dapat berjalan tanpa dukungan orang tua dan masyarakat.

Karena itu, membangun ekosistem pendidikan menjadi hal yang sangat penting. Komunikasi antara sekolah dan orang tua harus terus dijaga. Orang tua perlu memahami bahwa pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab guru. Apa yang dibangun di sekolah perlu diperkuat di rumah.

Ketika sekolah, keluarga, dan masyarakat memiliki kepedulian yang sama terhadap pendidikan anak, perubahan akan menjadi lebih kuat.

Kini, ketika saya melihat kembali perjalanan yang dimulai pada tahun 2022, saya menyadari bahwa menjadi Sekolah Penggerak bukanlah sebuah garis akhir. Justru itu adalah awal dari perjalanan yang lebih panjang.

Kami masih terus belajar.

Kami masih memiliki kekurangan.

Kami masih harus memperbaiki banyak hal.

Namun, ada satu hal yang berubah: kami tidak lagi takut terhadap perubahan.

Kami memahami bahwa perubahan memang membutuhkan proses. Tidak semua hasil dapat dilihat hari ini. Ada perubahan yang baru terasa beberapa bulan kemudian. Bahkan mungkin bertahun-tahun setelahnya, ketika anak-anak yang pernah belajar di sekolah kami tumbuh menjadi pribadi yang mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Itulah ukuran keberhasilan pendidikan yang sesungguhnya.

Saya percaya, sebuah sekolah tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk mulai berubah.

Mulailah dari apa yang bisa dilakukan.

Jika hari ini guru dapat membuat pembelajaran sedikit lebih baik, lakukan.

Jika hari ini ada satu murid yang berani bertanya, hargai.

Jika hari ini ada seorang anak yang mulai belajar membuang sampah pada tempatnya, apresiasi.

Jika hari ini seorang guru berani mencoba metode pembelajaran baru, dukung.

Perubahan besar sering kali lahir dari keberanian melakukan hal-hal kecil secara konsisten.

Bagi saya, Sekolah Penggerak adalah tentang keberanian untuk memulai dan kesediaan untuk terus berjalan.

SDN Cikeusal II menjadi bagian dari perjalanan tersebut pada tahun 2022. Sebuah perjalanan yang mengajarkan kepada kami bahwa pendidikan tidak cukup hanya diwariskan, tetapi harus terus diperbarui sesuai dengan kebutuhan zaman.

Sekolah harus menjadi tempat yang hidup. Guru harus menjadi pembelajar. Kepala sekolah harus menjadi penggerak. Dan murid harus menjadi pusat dari seluruh proses pendidikan.

Jika setiap sekolah mau bergerak, saya percaya perubahan pendidikan Indonesia bukanlah sesuatu yang mustahil.

Mungkin perubahan itu dimulai dari sebuah kelas kecil.

Mungkin dimulai dari seorang guru yang mau belajar.

Mungkin dimulai dari seorang kepala sekolah yang berani mengajak timnya berubah.

Mungkin pula dimulai dari seorang anak yang hari ini berani bertanya.

Tetapi ketika langkah-langkah kecil itu dilakukan bersama, ia akan menjadi gerakan yang besar.

Itulah makna Sekolah Penggerak bagi saya.

Bukan sekadar nama program.

Bukan sekadar predikat.

Bukan pula sekadar rangkaian kegiatan.

Sekolah Penggerak adalah semangat untuk terus bergerak demi anak-anak, demi guru, dan demi masa depan pendidikan Indonesia.

Dan saya percaya, selama masih ada guru yang mau belajar, kepala sekolah yang mau mendengar, dan sekolah yang mau berubah, harapan untuk menghadirkan pendidikan Indonesia yang lebih baik akan selalu ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar