Ada
masa ketika perubahan di sekolah terasa seperti sesuatu yang besar dan sulit
dimulai. Perubahan sering kali dibayangkan sebagai program baru, aturan baru,
atau berbagai dokumen yang harus disiapkan. Namun, setelah menjalani prosesnya
di SDN Cikeusal II, saya justru menemukan bahwa perubahan pendidikan tidak
selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Perubahan dapat tumbuh dari langkah
sederhana yang dilakukan bersama, terus-menerus, dan dengan keyakinan bahwa
setiap anak berhak mendapatkan pengalaman belajar yang terbaik.
Tahun
2022 samapai Tahun 2024 menjadi salah satu tahun yang tidak mudah saya lupakan.
Pada tahun itu, SDN Cikeusal II mendapatkan kesempatan menjadi bagian dari
Program Sekolah Penggerak. Bagi sebagian orang, mungkin hal tersebut hanya
terlihat sebagai sebuah program pendidikan. Bagi kami di sekolah, menjadi
Sekolah Penggerak adalah sebuah kepercayaan sekaligus tanggung jawab.
Ada
rasa bangga, tentu saja. Tetapi di balik rasa bangga itu muncul pertanyaan yang
cukup besar dalam diri saya sebagai kepala sekolah. Apakah kami mampu
menjalankan amanah ini dengan baik? Apakah guru-guru siap berubah? Apakah
perubahan yang kami lakukan benar-benar akan dirasakan oleh murid?
Saya
menyadari bahwa menjadi Sekolah Penggerak bukan berarti sekolah kami sudah
menjadi sekolah yang paling baik. Justru status tersebut menjadi pengingat
bahwa kami harus terus bergerak dan belajar.
Saya
masih ingat bagaimana kami mulai memahami berbagai perubahan yang harus
dilakukan. Ada istilah-istilah baru yang harus dipahami. Ada pola pembelajaran
yang harus disesuaikan. Guru perlu memahami konsep pembelajaran yang lebih
berpusat pada murid. Perencanaan pembelajaran harus mulai dilihat bukan hanya
dari sisi materi yang akan disampaikan, tetapi juga dari kebutuhan dan karakter
anak.
Pada
saat itu, saya melihat bahwa tantangan terbesar bukanlah menyusun dokumen.
Tantangan yang sesungguhnya adalah mengubah kebiasaan.
Kebiasaan
mengajar yang sudah berlangsung bertahun-tahun tentu tidak mudah diubah begitu
saja. Guru sudah memiliki pengalaman dan cara masing-masing dalam mengajar.
Karena itu, saya tidak ingin perubahan dilakukan dengan cara memerintah atau
menyalahkan kebiasaan lama.
Saya
memilih untuk mengajak guru berdiskusi.
Kami
belajar bersama, berbagi pengalaman, dan membicarakan apa yang terjadi di ruang
kelas. Guru diberikan kesempatan untuk menceritakan kesulitan yang mereka
hadapi. Ada yang merasa belum terbiasa menggunakan pendekatan baru. Ada yang
masih mencari cara agar murid lebih aktif. Ada pula yang merasa perlu belajar
lebih banyak tentang teknologi.
Saya
melihat bahwa ketika guru diberikan ruang untuk berbicara, mereka merasa
dihargai. Dari situlah tumbuh keberanian untuk mencoba.
Saya
pun belajar bahwa seorang kepala sekolah tidak cukup hanya memberikan arahan.
Kepala sekolah harus berada bersama guru ketika perubahan itu berlangsung.
Saya
berusaha menempatkan diri bukan sebagai orang yang paling tahu, tetapi sebagai
orang yang juga terus belajar. Kami sama-sama belajar bahwa pendidikan terus
berkembang dan tidak ada seorang pun yang boleh berhenti belajar hanya karena
merasa sudah lama menjadi guru.
Perubahan
kemudian mulai terlihat sedikit demi sedikit.
Pembelajaran
di kelas mulai diarahkan agar murid tidak hanya menerima informasi, tetapi ikut
terlibat dalam proses menemukan pengetahuan. Murid diberikan kesempatan untuk
bertanya, berdiskusi, bekerja dalam kelompok, melakukan pengamatan,
menyampaikan pendapat, dan menghasilkan karya.
Bagi
saya, perubahan tersebut sangat berarti.
Saya
pernah melihat anak yang sebelumnya lebih banyak diam mulai berani menyampaikan
pendapat ketika bekerja dalam kelompok. Ada anak yang tidak terlalu menonjol
dalam pembelajaran akademik, tetapi ternyata sangat kreatif ketika diberikan
kesempatan membuat sebuah karya. Ada pula murid yang menunjukkan kemampuan
memimpin teman-temannya ketika melaksanakan kegiatan bersama.
Dari
pengalaman itu saya semakin yakin bahwa setiap anak memiliki keunikan.
Tugas
sekolah bukan memaksa semua anak menjadi sama. Tugas sekolah adalah membantu
setiap anak menemukan dan mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Karena
itu, kami mulai membangun cara pandang bahwa keberhasilan murid tidak hanya
diukur dari nilai yang tertulis di rapor. Ada keberanian bertanya, kemampuan
bekerja sama, kemandirian, kreativitas, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap
orang lain yang juga harus dihargai.
Perubahan
tersebut semakin terasa ketika sekolah mulai melaksanakan berbagai kegiatan
yang memberikan pengalaman nyata kepada murid.
Melalui
projek, misalnya, anak-anak belajar tidak hanya dari buku. Mereka belajar
melalui lingkungan dan kehidupan di sekitar mereka. Mereka belajar membagi
tugas, bekerja sama, menyelesaikan masalah, dan bertanggung jawab terhadap apa
yang mereka kerjakan.
Pada
saat itulah saya melihat wajah pendidikan yang berbeda.
Anak-anak
terlihat lebih bersemangat ketika mereka diberi kesempatan untuk melakukan
sesuatu secara langsung. Mereka tidak hanya bertanya, “Apa jawabannya?” tetapi
mulai bertanya, “Bagaimana cara membuatnya?” atau “Mengapa hal itu bisa
terjadi?”
Bagi
saya, pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut menunjukkan adanya perubahan
dalam cara anak belajar.
Namun,
menjadi Sekolah Penggerak tidak hanya berbicara tentang pembelajaran di dalam
kelas. Kami juga menyadari bahwa perubahan harus terlihat dalam budaya sekolah.
Salah
satu pengalaman yang paling sederhana tetapi sangat membekas bagi saya adalah
tentang kebersihan.
Suatu
hari ada seorang murid yang membawa jajanan. Setelah selesai makan, bungkus
jajanan tersebut dilempar begitu saja ke halaman, bukan ke tempat sampah. Guru
yang melihat kejadian itu langsung mendekati murid tersebut. Guru itu
menegurnya dengan cara yang tegas, tetapi tetap mendidik. Tangannya memegang
pundak anak tersebut sambil mengingatkan bahwa sampah harus dibuang pada
tempatnya.
Peristiwa
itu mungkin sangat sederhana. Namun, saya melihat ada nilai pendidikan yang
besar di dalamnya.
Guru
tidak hanya mengajarkan kebersihan melalui kata-kata. Guru hadir dan memberikan
contoh secara langsung.
Pada
kesempatan lain, ketika melihat sampah berserakan, seorang guru justru
mengambil sampah tersebut terlebih dahulu dan membuangnya ke tempat yang telah
disediakan. Murid-murid yang melihat kemudian ikut membersihkan lingkungan.
Tidak
ada ceramah panjang.
Tidak
ada hukuman.
Hanya
sebuah keteladanan sederhana.
Tetapi
justru dari situlah saya belajar bahwa pendidikan karakter sering kali lebih
kuat melalui contoh daripada melalui nasihat.
Guru
adalah sosok yang setiap hari dilihat oleh murid. Apa yang dilakukan guru akan
mudah ditiru. Ketika guru datang tepat waktu, murid belajar disiplin. Ketika
guru menjaga kebersihan, murid belajar peduli lingkungan. Ketika guru
menghargai pendapat orang lain, murid belajar menghargai. Ketika guru mau
belajar, murid pun melihat bahwa belajar adalah proses sepanjang hayat.
Inilah
salah satu perubahan yang ingin kami tumbuhkan di SDN Cikeusal II: perubahan
yang tidak hanya terlihat dalam perangkat pembelajaran, tetapi juga dalam
kebiasaan sehari-hari.
Di
sisi lain, perkembangan teknologi juga menjadi bagian dari perjalanan perubahan
kami.
Saya
menyadari bahwa sekolah tidak boleh menutup mata terhadap perkembangan zaman.
Anak-anak yang kami didik akan hidup di tengah dunia yang semakin digital.
Karena itu, guru juga harus memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi untuk
mendukung pembelajaran.
Guru
mulai menggunakan berbagai perangkat dan sumber digital untuk membuat
pembelajaran lebih menarik. Mereka mencari berbagai referensi, membuat media
pembelajaran, dan mencoba berbagai cara agar materi yang disampaikan lebih
mudah dipahami murid.
Perkembangan
Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan kemudian memberikan peluang
baru.
Saya
melihat guru mulai mengenal AI sebagai alat bantu dalam menyiapkan
pembelajaran. AI dapat membantu memberikan ide, menyusun bahan awal, mencari
variasi aktivitas, maupun membantu guru mengembangkan media pembelajaran.
Tetapi
saya selalu mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat.
Jangan
sampai guru menjadi bergantung kepada teknologi. Jangan sampai teknologi
menggantikan hubungan manusiawi antara guru dan murid.
Guru
tetap harus menjadi sosok yang mengenal muridnya. Guru harus tahu siapa anak
yang membutuhkan pendampingan, siapa yang membutuhkan tantangan lebih, siapa
yang sedang kehilangan semangat belajar, dan siapa yang sebenarnya memiliki
potensi tetapi belum mendapatkan ruang untuk menunjukkannya.
Teknologi
dapat membantu pekerjaan guru, tetapi hati dan kepedulian guru tetap tidak
dapat digantikan.
Dalam
proses perubahan itu, tentu tidak semuanya berjalan mulus.
Ada
saat ketika semangat mulai menurun. Ada kegiatan yang tidak berjalan sesuai
rencana. Ada guru yang membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi. Ada pula
perubahan yang hasilnya belum langsung terlihat.
Di
sinilah saya belajar tentang arti kesabaran dalam memimpin sekolah.
Perubahan
budaya tidak bisa dipaksakan dalam waktu singkat.
Saya
memilih untuk terus mendampingi, mengajak berdiskusi, memberikan apresiasi
terhadap kemajuan kecil, dan mengingatkan kembali tujuan utama dari setiap
perubahan.
Bagi
saya, kepala sekolah bukan hanya pengelola sekolah. Kepala sekolah adalah orang
yang harus mampu menjaga api perubahan agar tidak padam.
Jika
guru merasa kesulitan, kepala sekolah harus hadir.
Jika
guru memiliki gagasan, kepala sekolah harus memberikan ruang.
Jika
ada kesalahan, kepala sekolah harus membantu mencari solusi.
Dan
jika ada keberhasilan, keberhasilan itu harus dirayakan bersama.
Saya
semakin memahami bahwa sekolah yang hebat bukanlah sekolah yang tidak pernah
menghadapi masalah. Sekolah yang hebat adalah sekolah yang mau belajar dari
masalah.
Menjadi
Sekolah Penggerak juga membuat kami semakin memahami pentingnya refleksi.
Setelah
melakukan kegiatan, kami belajar bertanya kembali: Apa yang sudah baik? Apa
yang belum berhasil? Mengapa belum berhasil? Apa yang harus diperbaiki? Dan
yang paling penting, apakah perubahan yang kami lakukan benar-benar memberikan
dampak kepada murid?
Pertanyaan-pertanyaan
itu menjadi bagian penting dalam perjalanan kami.
Sebab,
pendidikan tidak boleh hanya sibuk dengan kegiatan. Jangan sampai sekolah
memiliki banyak program, tetapi lupa bertanya apakah program tersebut
benar-benar memberikan manfaat bagi anak.
Pada
akhirnya, semua yang dilakukan sekolah harus kembali kepada murid.
Murid
adalah alasan mengapa sekolah harus terus bergerak.
Murid
adalah alasan mengapa guru harus terus belajar.
Murid
adalah alasan mengapa kepala sekolah tidak boleh berhenti mencari cara untuk
memperbaiki sekolah.
Pengalaman
SDN Cikeusal II sebagai Sekolah Penggerak sejak tahun 2022 memberikan perubahan
yang bukan hanya terlihat pada kegiatan sekolah, tetapi juga pada cara kami
memandang pendidikan.
Kami
belajar bahwa perubahan bukan pekerjaan satu orang. Perubahan membutuhkan
kebersamaan.
Guru
tidak dapat bekerja sendirian. Kepala sekolah tidak dapat bergerak sendirian.
Sekolah juga tidak dapat berjalan tanpa dukungan orang tua dan masyarakat.
Karena
itu, membangun ekosistem pendidikan menjadi hal yang sangat penting. Komunikasi
antara sekolah dan orang tua harus terus dijaga. Orang tua perlu memahami bahwa
pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab guru. Apa yang dibangun di sekolah
perlu diperkuat di rumah.
Ketika
sekolah, keluarga, dan masyarakat memiliki kepedulian yang sama terhadap
pendidikan anak, perubahan akan menjadi lebih kuat.
Kini,
ketika saya melihat kembali perjalanan yang dimulai pada tahun 2022, saya
menyadari bahwa menjadi Sekolah Penggerak bukanlah sebuah garis akhir. Justru
itu adalah awal dari perjalanan yang lebih panjang.
Kami
masih terus belajar.
Kami
masih memiliki kekurangan.
Kami
masih harus memperbaiki banyak hal.
Namun,
ada satu hal yang berubah: kami tidak lagi takut terhadap perubahan.
Kami
memahami bahwa perubahan memang membutuhkan proses. Tidak semua hasil dapat
dilihat hari ini. Ada perubahan yang baru terasa beberapa bulan kemudian.
Bahkan mungkin bertahun-tahun setelahnya, ketika anak-anak yang pernah belajar
di sekolah kami tumbuh menjadi pribadi yang mampu memberikan manfaat bagi orang
lain.
Itulah
ukuran keberhasilan pendidikan yang sesungguhnya.
Saya
percaya, sebuah sekolah tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk mulai
berubah.
Mulailah
dari apa yang bisa dilakukan.
Jika
hari ini guru dapat membuat pembelajaran sedikit lebih baik, lakukan.
Jika
hari ini ada satu murid yang berani bertanya, hargai.
Jika
hari ini ada seorang anak yang mulai belajar membuang sampah pada tempatnya,
apresiasi.
Jika
hari ini seorang guru berani mencoba metode pembelajaran baru, dukung.
Perubahan
besar sering kali lahir dari keberanian melakukan hal-hal kecil secara
konsisten.
Bagi
saya, Sekolah Penggerak adalah tentang keberanian untuk memulai dan kesediaan
untuk terus berjalan.
SDN
Cikeusal II menjadi bagian dari perjalanan tersebut pada tahun 2022. Sebuah
perjalanan yang mengajarkan kepada kami bahwa pendidikan tidak cukup hanya
diwariskan, tetapi harus terus diperbarui sesuai dengan kebutuhan zaman.
Sekolah
harus menjadi tempat yang hidup. Guru harus menjadi pembelajar. Kepala sekolah
harus menjadi penggerak. Dan murid harus menjadi pusat dari seluruh proses
pendidikan.
Jika
setiap sekolah mau bergerak, saya percaya perubahan pendidikan Indonesia
bukanlah sesuatu yang mustahil.
Mungkin
perubahan itu dimulai dari sebuah kelas kecil.
Mungkin
dimulai dari seorang guru yang mau belajar.
Mungkin
dimulai dari seorang kepala sekolah yang berani mengajak timnya berubah.
Mungkin
pula dimulai dari seorang anak yang hari ini berani bertanya.
Tetapi
ketika langkah-langkah kecil itu dilakukan bersama, ia akan menjadi gerakan
yang besar.
Itulah
makna Sekolah Penggerak bagi saya.
Bukan
sekadar nama program.
Bukan
sekadar predikat.
Bukan
pula sekadar rangkaian kegiatan.
Sekolah
Penggerak adalah semangat untuk terus bergerak demi anak-anak, demi guru, dan
demi masa depan pendidikan Indonesia.
Dan
saya percaya, selama masih ada guru yang mau belajar, kepala sekolah yang mau
mendengar, dan sekolah yang mau berubah, harapan untuk menghadirkan pendidikan
Indonesia yang lebih baik akan selalu ada.
.jpeg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar